AF Team Chapter 4 (end)
![]() |
| Felix kesayangan aquh<3 |
Hubunganku dengan Felix perlahan
membaik.
Ini hari
Minggu dan Felix mengajakku bermain di landasan milik kopassus. Setiap hari
Minggu, di sini rutin dijadikan tempat berolahraga. Biasanya kami bersepeda
atau bahkan berjalan kaki bersama menikmati suasana Batujajar yang asri.
Kemarin,
Felix menjelaskan kenapa dia menjauhiku. Bukannya marah atau benci, tapi dia
hanya tidak ingin menggangguku. Felix ingin aku berpikir soal perkataannya di
kursi koridor pada hari Senin lalu. Dan sayangnya itu sama sekali tidak aku
pikirkan.
Aku
mengalihkan pikiranku dengan menonton bola. Kebetulan ini minggu di mana
European Qualifiers dan pertandingan-persahabatan berlangsung. Ya meskipun
Jerman hanya memetik hasil imbang saat melawan Australia, dan hanya mencetak
dua gol ke gawang Georgia, tapi dengan hanya menonton mereka pun aku bisa
bahagia. Apalagi di pertandingan melawan Australia Mesut Özil menjadi kapten,
lalu di pertandingan Georgia itu Götzeus comeback.
Felix yang
menjemputku ke rumah. Kami menaiki sepeda masing-masing untuk sampai di
ladasan. Entah kenapa perasaanku senang sekali. Aku merasa bebas dan tenang.
![]() |
| Felix and his bicycle |
Felix
disampingku terus mengoceh tidak jelas. Dia terus menyindir soal dua tim
kesayanganku yang gagal di UCL. Padahal dia sendiri juga menyukai Borussia
Dortmund. Dasar fans durhaka.
"Le,
nanti sore ke sini lagi ya," ajak Felix tiba-tiba, kami baru saja sampai
di tempat di mana banyak pedagang berjualan.
"Mau
apa?"
"Main
aja. Sudah lama gak main-main ke sini sore-sore."
"Oke
deh."
"Tapi
kamu datang sendiri ya, aku gak bisa jemput."
"Iya.
Kamu ngajak siapa aja?"
"Paling
Niklas."
"Niklas
yang mana?"
"Kamu
pikir aku dekat dengan berapa Niklas dikelas?"
Ini bukan
salahku. Di kelas, ada dua Niklas. Tapi yang dekat dengan Felix adalah Niklas
Dorsch. Mereka so sweet sekali. Jika meng-upload foto di Instagram selalu diberi
hastag #fpnd, yang merupakan
singkatan dari Felix Passlack-Niklas Dorsch.
"Kamu
lapar gak?" tanya Felix.
"Sedikit."
"Ayo
beli bubur."
Kami baru
berjalan-jalan sekitar sepuluh menit. Tujuan kami ke sini memang untuk mencari
makanan, bukan berolahraga. Di sini tentu banyak sekali pedagang makanan. Dan
Felix mengajak untuk makan bubur. Kita sudah langganan dengan penjualnya.
Lagi pula setiap kali ke sini pasti membeli bubur. Ya meskipun terkadang hanya
Felix yang membeli.
"Kamu
aja ah yang beli. Aku gak ada mood makan bubur," kataku.
"Eh kamu
gimana sih."
"Gak
apa-apa. Aku beli yang lain aja."
Aku memainkan
ponsel sementara Felix makan bubur. Kami berdua duduk di tikar yang memang
disediakan khusus oleh si penjual bubur. Sesekali Felix memaksa untuk
menyuapiku. Tapi sungguh hari ini aku tidak ingin memakan bubur.
"Sedang
apa, sih? Serius amat, amat aja gak serius."
"Ini
lagi baca berita Mesut Ozil yang jadi kapten."
"Masih
aja di cari. Orang udah basi juga."
"Sirik
aja."
Felix kembali
melanjutkan makannya.
***
Sore harinya...
Aku baru saja
terbangun dari mimpi indahku bersama Mesut Özil. Menurut mitos yang beredar,
jika kita memimpikan seseorang berarti orang itu sedang memikirkan kita. Itu
artinya Mesut Özil lagi mikirin aku dong? Oke itu hanya mitos.
Aku pergi
menggunakan sepeda untuk sampai ke landasan. Rasanya aku menjadi pusat
perhatian sejak tadi. Apa ada yang salah denganku? Aku memakai kaos putih
bertuliskan "Mesut Özil Is Mine" yang aku sablon sendiri. Apa itu
salah?
Felix bilang
dia menunggu di tempat yang tadi pagi dijadikan tempat berjualan. Tetapi ketika
aku ke sana tidak ada siapa-siapa. Huh sepertinya dia mengerjaiku.
Aku turun
dari sepedaku dan duduk di aspal. Tanganku sibuk mengirim pesan kepada Felix,
sampai akhirnya dia berkata bahwa dia ada di ujung landasan. Astaga... itu kan
lumayan jauh! Aku mendecak sebelum pergi menuju ujung landasan.
Dari kejauhan
bisa terlihat bahwa Felix tidak sendiri. Dia membawa hampir seluruh teman
laki-laki di kelas kami. Entah hampir seluruh atau memang seluruhnya, aku tidak
sempat menghitung. Mereka semua mengenakan seragam kebanggaan kelas kami.
Sungguh ini menggelikan.
Ketika aku
bergerak mendekat, mereka semua serempak berdiri. Felix yang berada di tengah
depan, rasanya seperti Melody kalau di JKT48. Di kedua sisinya ada Dzenis Burnic
dan Görkem Saglam yang sama-sama memakai topi.
![]() |
| Constantin Frommann, Dzenis Burnic, Felix Passlack, Görkem Saglam, Erdinc Karakas |
Dan ditangan
kiri Felix ada beberapa tangkai bunga. Aku tidak tahu sebenarnya itu bunga apa,
tapi bentuknya seperti bunga matahari. Oh mungkin memang bunga matahari. Lalu
ini apa maksudnya?
Jarak kami
hanya terpisah sekitar lima meter, kemudian Felix lah yang sedikit mendekat
kearahku. Gerombolannya tidak ikut mendekat. Jadilah aku dan Felix saling
berhadapan. Aku menatapnya dengan seribu pertanyaan. Perasaanku tidak enak.
Kami jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.
"Ada
apa, sih? Malu diliatin orang-orang," kataku berbisik.
"Mungkin
kamu bingung kenapa aku tiba-tiba seperti ini," sahutnya dengan polos.
Felix
melanjutkan. "Aku suka sama kamu sejak kamu dekat dengan Kakakku. Biasanya
ke-gesrekan Kak Laura kambuh saat melihat pemain-pemain Jerman yang tampan. Dan
dia sering berteriak dan mengoceh tidak jelas, tidak peduli apakah ada yang
mendengarkan atau tidak. Tapi semenjak ada kamu, semuanya berubah. Sekarang
telingaku tidak lagi harus menahan sakit gara-gara ocehan Kak Laura. Aku juga
senang akhirnya Kak Laura menemukan teman yang cocok dengannya."
Eh? Apa ini?
Dia menembakku atau sedang curhat?
Lalu bunga
matahari yang dia bawa disodorkan kearahku sambil berlutut. Kenapa ya dia
membawa bunga matahari? Padahal aku pernah berkata bahwa aku menyukai bunga
Sakura. Apa karena aku menyukai tokoh Himawari adiknya Shinchan? Atau karena
aku suka menyanyikan lagu Himawari milik JKT48? Entahlah..
"Kalau
kamu terima, ambil bunga ini dan pegang. Tapi kalau kamu nolak, ambil bunga ini
tapi langsung kamu buang." Felix terkekeh.
Sumpah aku
masih tidak mengerti. Apa dia hanya mengerjaiku ya?
"Selama
ini aku selalu berusaha untuk melindungi kamu. Terutama dari kakak kelas yang
setiap hari kamu pandangi dari kursi koridor. Aku benar-benar tulus sama kamu,
Le. Bukan karena kasihan gara-gara kamu disakiti oleh Sinan." Felix
kembali meyakiniku.
Aku beralih
menatap teman-temannya. Mereka semua mengangguk dengan kompak. Lalu Niklas
Dorsch memimpin semuanya untuk berteriak "terima" sambil bertepuk
tangan.
Akhirnya aku
ambil bunga itu dan aku pegang. Beberapa detik kemudian Felix bangkit dan ia
terlihat sangat berbinar.
"Kamu
serius?" tanya Felix.
Aku
mengangguk. Lalu Felix memelukku. Oh God... aroma tubuhnya wangi sekali... Apa
dia memakai parfume satu galon ya?
Pelukkan itu
bertahan beberapa detik saja. Semua orang yang melihat ini bertepuk tangan dan
bersorak. Ada Salih Özcan yang sejak tadi merekam kami berdua. Aku jadi ingat
kalau dia itu incarannya Kak Laura. Eh, ternyata ada Kak Laura juga disamping
Salih, dia pintar juga ya memanfaatkan kesempatan di dibalik kesempitan.
Dan entah
sejak kapan Janni Serra membawa gitar. Dengan kompaknya gerombolan teman-teman
sekelas kami menyanyikan lagu From This Moment On dari Shania Twain.
From this moment live has begun..
From this moment you are the one..
Right beside you is where I belong...
From this moment on... 🎶
Aku tidak
henti-hentinya tersenyum. Ah, sungguh bahagia sekali. Lagu From This Moment On
itu memang terkadang aku dan Felix nyanyikan bersama-sama saat tidak ada guru
dikelas. Biasanya dipojok kanan kelas yang sedikit aman dari sorotan CCTV.
Felix yang memainkan gitar dan kami bernyanyi bergantian.
Kedua jemari
kami saling bertaut. Semoga dia tidak menyadari kalau telapak tanganku ini
berkeringat. Ah, aku benar-benar bahagia. Mungkin mulai hari ini dan seterusnya
akan ada hastag baru yang menghiasi setiap postingan Felix di sosial media.
Yaitu #AFteam.
---Selesai---
Terimakasih sudah membaca cerita
ini 😊



Tidak ada komentar:
Posting Komentar