Translate

Selasa, 01 Agustus 2017

AF Team (4) ~ END

AF Team Chapter 4 (end)
Felix kesayangan aquh<3

Hubunganku dengan Felix perlahan membaik.
Ini hari Minggu dan Felix mengajakku bermain di landasan milik kopassus. Setiap hari Minggu, di sini rutin dijadikan tempat berolahraga. Biasanya kami bersepeda atau bahkan berjalan kaki bersama menikmati suasana Batujajar yang asri.
 
Kemarin, Felix menjelaskan kenapa dia menjauhiku. Bukannya marah atau benci, tapi dia hanya tidak ingin menggangguku. Felix ingin aku berpikir soal perkataannya di kursi koridor pada hari Senin lalu. Dan sayangnya itu sama sekali tidak aku pikirkan.

Aku mengalihkan pikiranku dengan menonton bola. Kebetulan ini minggu di mana European Qualifiers dan pertandingan-persahabatan berlangsung. Ya meskipun Jerman hanya memetik hasil imbang saat melawan Australia, dan hanya mencetak dua gol ke gawang Georgia, tapi dengan hanya menonton mereka pun aku bisa bahagia. Apalagi di pertandingan melawan Australia Mesut Özil menjadi kapten, lalu di pertandingan Georgia itu Götzeus comeback.

Felix yang menjemputku ke rumah. Kami menaiki sepeda masing-masing untuk sampai di ladasan. Entah kenapa perasaanku senang sekali. Aku merasa bebas dan tenang.

Felix and his bicycle

Felix disampingku terus mengoceh tidak jelas. Dia terus menyindir soal dua tim kesayanganku yang gagal di UCL. Padahal dia sendiri juga menyukai Borussia Dortmund. Dasar fans durhaka.

"Le, nanti sore ke sini lagi ya," ajak Felix tiba-tiba, kami baru saja sampai di tempat di mana banyak pedagang berjualan.

"Mau apa?"
           
"Main aja. Sudah lama gak main-main ke sini sore-sore."

"Oke deh."

"Tapi kamu datang sendiri ya, aku gak bisa jemput."

"Iya. Kamu ngajak siapa aja?"

"Paling Niklas."
           
"Niklas yang mana?"

"Kamu pikir aku dekat dengan berapa Niklas dikelas?"

Ini bukan salahku. Di kelas, ada dua Niklas. Tapi yang dekat dengan Felix adalah Niklas Dorsch. Mereka so sweet sekali. Jika meng-upload foto di Instagram selalu diberi hastag #fpnd, yang merupakan singkatan dari Felix Passlack-Niklas Dorsch.

"Kamu lapar gak?" tanya Felix.

"Sedikit."

"Ayo beli bubur."

Kami baru berjalan-jalan sekitar sepuluh menit. Tujuan kami ke sini memang untuk mencari makanan, bukan berolahraga. Di sini tentu banyak sekali pedagang makanan. Dan Felix mengajak untuk makan bubur. Kita sudah langganan dengan penjualnya. Lagi pula setiap kali ke sini pasti membeli bubur. Ya meskipun terkadang hanya Felix yang membeli.

"Kamu aja ah yang beli. Aku gak ada mood makan bubur," kataku.

"Eh kamu gimana sih."

"Gak apa-apa. Aku beli yang lain aja."

Aku memainkan ponsel sementara Felix makan bubur. Kami berdua duduk di tikar yang memang disediakan khusus oleh si penjual bubur. Sesekali Felix memaksa untuk menyuapiku. Tapi sungguh hari ini aku tidak ingin memakan bubur.

"Sedang apa, sih? Serius amat, amat aja gak serius."

"Ini lagi baca berita Mesut Ozil yang jadi kapten."

"Masih aja di cari. Orang udah basi juga."

"Sirik aja."

Felix kembali melanjutkan makannya.

***

Sore harinya...

Aku baru saja terbangun dari mimpi indahku bersama Mesut Özil. Menurut mitos yang beredar, jika kita memimpikan seseorang berarti orang itu sedang memikirkan kita. Itu artinya Mesut Özil lagi mikirin aku dong? Oke itu hanya mitos.

Aku pergi menggunakan sepeda untuk sampai ke landasan. Rasanya aku menjadi pusat perhatian sejak tadi. Apa ada yang salah denganku? Aku memakai kaos putih bertuliskan "Mesut Özil Is Mine" yang aku sablon sendiri. Apa itu salah?

Felix bilang dia menunggu di tempat yang tadi pagi dijadikan tempat berjualan. Tetapi ketika aku ke sana tidak ada siapa-siapa. Huh sepertinya dia mengerjaiku.

Aku turun dari sepedaku dan duduk di aspal. Tanganku sibuk mengirim pesan kepada Felix, sampai akhirnya dia berkata bahwa dia ada di ujung landasan. Astaga... itu kan lumayan jauh! Aku mendecak sebelum pergi menuju ujung landasan.

Dari kejauhan bisa terlihat bahwa Felix tidak sendiri. Dia membawa hampir seluruh teman laki-laki di kelas kami. Entah hampir seluruh atau memang seluruhnya, aku tidak sempat menghitung. Mereka semua mengenakan seragam kebanggaan kelas kami. Sungguh ini menggelikan.

Ketika aku bergerak mendekat, mereka semua serempak berdiri. Felix yang berada di tengah depan, rasanya seperti Melody kalau di JKT48. Di kedua sisinya ada Dzenis Burnic dan Görkem Saglam yang sama-sama memakai topi.

Constantin Frommann, Dzenis Burnic, Felix Passlack, Görkem Saglam, Erdinc Karakas

Dan ditangan kiri Felix ada beberapa tangkai bunga. Aku tidak tahu sebenarnya itu bunga apa, tapi bentuknya seperti bunga matahari. Oh mungkin memang bunga matahari. Lalu ini apa maksudnya?

Jarak kami hanya terpisah sekitar lima meter, kemudian Felix lah yang sedikit mendekat kearahku. Gerombolannya tidak ikut mendekat. Jadilah aku dan Felix saling berhadapan. Aku menatapnya dengan seribu pertanyaan. Perasaanku tidak enak. Kami jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.

"Ada apa, sih? Malu diliatin orang-orang," kataku berbisik.

"Mungkin kamu bingung kenapa aku tiba-tiba seperti ini," sahutnya dengan polos.

Felix melanjutkan. "Aku suka sama kamu sejak kamu dekat dengan Kakakku. Biasanya ke-gesrekan Kak Laura kambuh saat melihat pemain-pemain Jerman yang tampan. Dan dia sering berteriak dan mengoceh tidak jelas, tidak peduli apakah ada yang mendengarkan atau tidak. Tapi semenjak ada kamu, semuanya berubah. Sekarang telingaku tidak lagi harus menahan sakit gara-gara ocehan Kak Laura. Aku juga senang akhirnya Kak Laura menemukan teman yang cocok dengannya."

Eh? Apa ini? Dia menembakku atau sedang curhat?

Lalu bunga matahari yang dia bawa disodorkan kearahku sambil berlutut. Kenapa ya dia membawa bunga matahari? Padahal aku pernah berkata bahwa aku menyukai bunga Sakura. Apa karena aku menyukai tokoh Himawari adiknya Shinchan? Atau karena aku suka menyanyikan lagu Himawari milik JKT48? Entahlah..

"Kalau kamu terima, ambil bunga ini dan pegang. Tapi kalau kamu nolak, ambil bunga ini tapi langsung kamu buang." Felix terkekeh.

Sumpah aku masih tidak mengerti. Apa dia hanya mengerjaiku ya?

"Selama ini aku selalu berusaha untuk melindungi kamu. Terutama dari kakak kelas yang setiap hari kamu pandangi dari kursi koridor. Aku benar-benar tulus sama kamu, Le. Bukan karena kasihan gara-gara kamu disakiti oleh Sinan." Felix kembali meyakiniku.
           
Aku beralih menatap teman-temannya. Mereka semua mengangguk dengan kompak. Lalu Niklas Dorsch memimpin semuanya untuk berteriak "terima" sambil bertepuk tangan.

Akhirnya aku ambil bunga itu dan aku pegang. Beberapa detik kemudian Felix bangkit dan ia terlihat sangat berbinar.

"Kamu serius?" tanya Felix.

Aku mengangguk. Lalu Felix memelukku. Oh God... aroma tubuhnya wangi sekali... Apa dia memakai parfume satu galon ya?

Pelukkan itu bertahan beberapa detik saja. Semua orang yang melihat ini bertepuk tangan dan bersorak. Ada Salih Özcan yang sejak tadi merekam kami berdua. Aku jadi ingat kalau dia itu incarannya Kak Laura. Eh, ternyata ada Kak Laura juga disamping Salih, dia pintar juga ya memanfaatkan kesempatan di dibalik kesempitan.

Dan entah sejak kapan Janni Serra membawa gitar. Dengan kompaknya gerombolan teman-teman sekelas kami menyanyikan lagu From This Moment On dari Shania Twain.

From this moment live has begun..
From this moment you are the one..
Right beside you is where I belong...
From this moment on... 🎶

Aku tidak henti-hentinya tersenyum. Ah, sungguh bahagia sekali. Lagu From This Moment On itu memang terkadang aku dan Felix nyanyikan bersama-sama saat tidak ada guru dikelas. Biasanya dipojok kanan kelas yang sedikit aman dari sorotan CCTV. Felix yang memainkan gitar dan kami bernyanyi bergantian.

Kedua jemari kami saling bertaut. Semoga dia tidak menyadari kalau telapak tanganku ini berkeringat. Ah, aku benar-benar bahagia. Mungkin mulai hari ini dan seterusnya akan ada hastag baru yang menghiasi setiap postingan Felix di sosial media.

Yaitu #AFteam.

---Selesai---

Terimakasih sudah membaca cerita ini 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar