Translate

Senin, 21 Agustus 2017

[Felix Zone] One Speechless Tear

Story By : Feny & Donna
Genre : Family

edited by me

"Pagi, Bunda!!" teriak Ajeng pagi itu dengan riang. Ia tampak sudah siap dengan baju sekolahnya.

"Pagi juga sayang, yuk sarapan dulu," kata Bunda dengan senyum manis.

"Iya Bun!" kata Ajeng langsung mengambil tempat duduk di sebelah seorang laki-laki yang sudah sibuk mengunyah. "Pagi, Kak Felix!"

Laki-laki yang dipanggil Felix itu melirik sejenak, kemudian kembali fokus mengunyah makanannya. Malas menjawab. Ajeng diam saja melihat reaksinya. Memang sudah biasa kakaknya seperti itu.


"Nih Ajeng makan dulu ya!" Bunda mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Ajeng.

"Pasti dong Bun, Ajeng kan mau tampil nanti sore!" kata Ajeng semangat.

"Wah, bagus dong, sayang. Nanti Kak Felix pasti bangga denger Ajeng nyanyi. Oh iya, hari ini kamu berangkat sama Kak Felix ya!" kata Bunda.

"NGGAK! FELIX GAK MAU!" Felix yang tadinya diam langsung berteriak.

"Felix, nggak boleh gitu sama Ajeng," kata Bunda menasehati.

"Alah, belain aja dia terus!" Dengan kesal, Felix membanting sendoknya ke piring. Sarapannya yang masih tersisa ia tinggalkan di atas meja.

BRAK! Suara pintu dibanting tampak mengagetkan Ajeng. Rasanya masih sesak menyadari ia begitu dibenci.

Felix sebenarnya bukan kakak kandungnya, tapi kakak tiri. Ayah Felix menikah dengan Ibu Ajeng setelah istrinya pergi dari rumah. Namun, akhirnya Ayah Felix dan Ibu Ajeng meninggal karena kecelakaan. Karena itulah dia di sini, dirawat oleh Bunda, alias Ibu kandung Felix.

Ajeng menoleh ke arah Bunda dengan tatapan sendu.

Bunda tersenyum. "Ayo makan sampai habis ya sayang, nanti kamu telat loh."

"Iya deh, Bun." Ajeng kembali makan, berusaha melupakan kejadian barusan. Bunda benar juga, daripada dia terlambat. Amit-amit disuruh bersihin toilet.

***

Di sekolah.

Mungkin sudah tidak asing lagi bagi Ajeng kalau teman-temannya terkesan tak ada yang peduli kepadanya.

Dia memang tidak dekat dengan siapa-siapa di sekolah karena Felix melarang dirinya mengikuti kegiatan apapun agar rahasia persaudaraan mereka tidak terbongkar.

Ajeng duduk sendirian saja di depan kelas sambil melamun. Membayangkan kapan kakaknya akan melunak dan berbaik hati kepadanya. Tapi sepertinya itu mustahil.

Ajeng memegang kepalanya. Arghhhh, kenapa belakangan sakit kepala terus sih? Staminanya semakin hari semakin lemah, tapi... tak pernah ada yang tahu. Ajeng merasa sudah cukup merepotkan.

Ajeng membuka resleting tasnya dan mengambil botol minum, berharap air dapat memulihkan sakit kepalanya.

Setelah meneguk air, ia ambil sebuah kertas yang terlipat dari dalam tasnya. Ia tatap isi kertas itu dengan kepala yang pusing.

Entah kapan ia bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Bunda dan Felix.

***

Sorenya, Ajeng beserta seluruh siswa yang lain berbondong-bondong memenuhi ruangan auditorium.

Hari ini bertepatan dengan ulang tahun sekolah mereka. Sejak kemarin, memang sudah banyak kegiatan yang terselenggarakan. Dan acara sore ini akan menjadi acara penutup.

Jantung Ajeng berdegup kencang ketika namanya dipanggil sang pembawa acara. Sekarang adalah gilirannya untuk tampil.

Ketika Ajeng mulai melangkahkan kakinya menuju podium, samar-samar ia bisa mendengar celotehan semua orang tentang dirinya.

Ajeng bisa memakluminya. Ia berjalan cuek dan mendudukkan dirinya tepat di hadapan sebuah piano yang memang sudah disiapkan untuk penampilannya.

Sejenak ia menutup matanya, menghirup napas dalam-dalam seraya mengumpulkan semua keberaniannya.

Detik berikutnya sebuah senyuman tersungging menghiasi wajah cantik gadis itu.

"Lagu ini, aku persembahkan untuk kakakku... Kak Felix," ujar Ajeng membuat siswa lain mendadak heboh. Pasalnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa Ajeng adalah adik dari seorang cassanova sekolah mereka, Felix.

Ketika dentingan piano mulai terdengar, suasana mendadak hening. Suara merdu Ajeng memenuhi seisi ruangan. Menyanyikan lagu "Here Comes Goodbye" dari Rascal Flatts.

Di awal lagu, Felix masih terlihat kesal setengah mati karena Ajeng membongkar rahasianya.

Namun Felix mulai tertegun menyaksikan penampilan Ajeng begitu adiknya masuk ke dalam reff.

Here comes the pain...
Here comes me wishing things had never changed..
And she was right here in my arms tonight, but here comes goodbye...

Felix tak mengerti. Sebenarnya apa maksudnya menyanyikan lagu itu untuknya? Dia seperti.... berpamitan? Ah, Ia bahkan tidak pernah tahu kalau adiknya itu memiliki suara seindah ini, terlebih Ajeng ternyata pandai bermain piano.

Pandangan Ajeng dan Felix bertemu sesaat di tengah lagu. Felix langsung membuang muka begitu ia melihat senyuman Ajeng.

Sekuat tenaga Ajeng menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menjalar ke seleruh tubuhnya.

Tidak, tidak. Kumohon jangan sekarang, batin Ajeng sambil terus bernyanyi. Setidaknya ia harus bisa menyelesaikan penampilannya.

Pandangan Ajeng perlahan mulai kabur. Ia ingin menangis, tapi ia tidak bisa. Beberapa detik lagi. Ajeng kembali membatin. Senyum di bibirnya tak pernah sekalipun ia hilangkan dari wajahnya. Ajeng sudah bertekad untuk memberikan penampilan terbaik demi kakaknya.

Ketika Ajeng menekan tuts terakhir, lagu yang ia nyanyikan pun berakhir. Suara tepuk tangan dan siulan pun langsung ia dapatkan dari seluruh orang yang menyaksikan penampilannya.

Ajeng tersenyum. Ia berdiri lalu membungkukkan sedikit tubuhnya. Memberi hormat kepada semua yang ada di sana sebelum akhirnya turun dari atas panggung.

Selepas penampilannya tadi, teman-teman Ajeng yang bahkan sebelumnya tidak pernah berbicara dengannya, langsung mengerumuninya.

"Ajeng, jadi lo itu adiknya kak Felix? tanya salah satu dari mereka.

Ajeng hanya tersenyum, tidak berniat untuk menanggapi rentetan pertanyaan dari mereka.

Merasa tak punya lagi urusan di sekolah, akhirnya Ajeng memutuskan untuk pulang. Ia benar-benar harus istirahat jika tidak mau ambruk.

"Udah puas lo ngebongkar semua rahasia yang udah gue jaga selama ini?" Sebuah suara tiba-tiba saja mengintrupsi Ajeng sebelum ia keluar dari gerbang sekolah.

"Kak Felix!" pekik Ajeng terkejut. Ia menatap keadaan sekitar yang tampak sepi. Pantas saja kakaknya itu mau berbicara kepadanya.

"Maaf kak, Ajeng gak maksud buat ngebongkar ra--"

"Udah deh lo gak usah ngeles. Sekarang semua orang yang ada di sekolah ini tau kalau lo itu adek gue. Selamat menikmati kepopuleran baru lo," kata Felix sarkatis.

Ajeng menundukkan kepalanya, menahan tangis. Kejam sekali pemikirannya. Padahal, ia sama sekali tidak mengincar kepopuleran dari kakaknya.

"Seandainya aja Ajeng boleh punya satu permintaan, Ajeng bakal minta supaya kak Felix mau mengakui Ajeng sebagai adik kakak."

"Lo itu bukan adik gue. Lo cuma anak dari si jalang yang udah ngerebut bokap gue."

Kata-kata Felix barusan langsung menohok hati Ajeng. Fakta bahwa ia hanya seorang anak haram kembali menggerogoti hatinya.

Ajeng selalu merasa kalau dia tak seharusnya dilahirkan ke dunia ini. Meski ibu tirinya selalu meyakinkan pada Ajeng kalau dirinya tidak apa-apa dan tidak merasa keberatan untuk merawat Ajeng, tapi ia tetap merasa bersalah.

"Kalau aja Ajeng tau cara gimana caranya supaya kak Felix mau nerima Ajeng, pasti bakal langsung Ajeng lakuin," ujar Ajeng dengan suara parau.

"Ada. Gue bakal maafin lo kalau lo pergi dari kehidupan gue selamanya."
Ajeng tertegun. Sebenci itukah Felix pada dirinya? Apa ia memang harus pergi dari kehidupan Felix dan ibunya?

"Jadi... Kak Felix lebih pengen Ajeng pergi?" tanya Ajeng lemah.

"Iya! Pergi lo jauh-jauh dari kehidupan gue!" kata Felix dengan penuh penekenan.

Ajeng menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang sudah hampir tumpah. Ia membalikkan badannya, memunggungi Felix.

"......Ya sudah. Kalau Kak Felix lebih bahagia Ajeng pergi, Ajeng...." Belum selesai Ajeng berbicara, ia perlahan berjalan menjauh.

"Heh! Mau kemana lo?! Gue belum selesai bicara!" Bentakan Felix kembali menggema.

Ajeng berhenti di tempatnya. Ia tetap memungungi kakaknya. Dengan jarak yang tak terlalu jauh, Ajeng kembali bersuara, "Seperti yang Ajeng bilang tadi kak, Ajeng bakal nurutin apapun kemauan Kak Felix agar kak Felix mau maafin Ajeng."

Felix menatap Ajeng tak mengerti. Apa gadis itu sungguh-sungguh akan pergi dari rumahnya dan tak merecokinya lagi?

"Tolong sampaikan salam Ajeng buat Bunda ya kak, maaf Ajeng gak bisa pamitan langsung. Makasih buat semuanya. Dan.... selamat tinggal, Kak!"

Felix masih tak mengerti dengan ucapan Ajeng. Ia hanya menatap kepergian gadis itu dalam diam. Memperhatikan setiap gerak-geriknya, sampai ia tersadar dengan suara keras yang menghantam telinganya... BRAAAAAAAK!!

Dengan ekspresi kaget, Felix langsung berlari keluar. Tiba-tiba rasa cemas langsung mengganggunya. Begitu ia sampai di luar, orang-orang sudah ramai mengelilingi satu tempat di tengah jalan.

"Felix, Ajeng kecelakaan!" Salah seorang yang menyadari kehadiran Felix langsung menghampirinya. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak meresponnya.

Felix terdiam, kemudian langsung menerobos Alvin dan orang-orang yang mengelilingi satu tempat itu.

"AJENG!!!" Felix berteriak begitu ia berhasil melihat Ajeng yang sudah terkapar di sana dengan penuh darah.

Badannya sudah bergetar hebat melihat kondisi adiknya sekarang.

Semua sudah terlambat...

Hatinya mencelos. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ajeng bunuh diri? Karena dirinya?

Felix jatuh tertuduk lemas di sebelah tubuh Ajeng. Ia bahkan tidak bisa mendengar teriakan orang-orang di sekitarnya yang mulai berisik karena ia tidak merespon apapun.

Tubuhnya masih terdiam kaku. Sementara itu samar-samar ia bisa melihat siluet tubuh Ajeng yang sedang menatapnya dengan senyuman manis.

Apa ia sedang bermimpi?

Siluet yang menyerupai Ajeng tampak melambaikan tangannya dan menghilang bersamaan dengan jatuhnya setetes air mata Felix.
           
***SELESAI***

Gewlagewla ini serius aku gak minta pakai nama ajeng wkwkwk. Kasian banget ya si gue gak di akui sama Felix *nangis dipojokan*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar