Story By : Feny & Donna
Genre : Family
![]() |
| edited by me |
"Pagi,
Bunda!!" teriak Ajeng pagi itu dengan riang. Ia tampak sudah siap dengan
baju sekolahnya.
"Pagi
juga sayang, yuk sarapan dulu," kata Bunda dengan senyum manis.
"Iya
Bun!" kata Ajeng langsung mengambil tempat duduk di sebelah seorang
laki-laki yang sudah sibuk mengunyah. "Pagi, Kak Felix!"
Laki-laki
yang dipanggil Felix itu melirik sejenak, kemudian kembali fokus mengunyah
makanannya. Malas menjawab. Ajeng diam saja melihat reaksinya. Memang sudah
biasa kakaknya seperti itu.
"Nih
Ajeng makan dulu ya!" Bunda mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Ajeng.
"Pasti
dong Bun, Ajeng kan mau tampil nanti sore!" kata Ajeng semangat.
"Wah,
bagus dong, sayang. Nanti Kak Felix pasti bangga denger Ajeng nyanyi. Oh iya,
hari ini kamu berangkat sama Kak Felix ya!" kata Bunda.
"NGGAK!
FELIX GAK MAU!" Felix yang tadinya diam langsung berteriak.
"Felix,
nggak boleh gitu sama Ajeng," kata Bunda menasehati.
"Alah,
belain aja dia terus!" Dengan kesal, Felix membanting sendoknya ke piring.
Sarapannya yang masih tersisa ia tinggalkan di atas meja.
BRAK! Suara
pintu dibanting tampak mengagetkan Ajeng. Rasanya masih sesak menyadari ia
begitu dibenci.
Felix
sebenarnya bukan kakak kandungnya, tapi kakak tiri. Ayah Felix menikah dengan
Ibu Ajeng setelah istrinya pergi dari rumah. Namun, akhirnya Ayah Felix dan Ibu
Ajeng meninggal karena kecelakaan. Karena itulah dia di sini, dirawat oleh
Bunda, alias Ibu kandung Felix.
Ajeng menoleh
ke arah Bunda dengan tatapan sendu.
Bunda
tersenyum. "Ayo makan sampai habis ya sayang, nanti kamu telat loh."
"Iya
deh, Bun." Ajeng kembali makan, berusaha melupakan kejadian barusan. Bunda
benar juga, daripada dia terlambat. Amit-amit disuruh bersihin toilet.
***
Di sekolah.
Mungkin sudah
tidak asing lagi bagi Ajeng kalau teman-temannya terkesan tak ada yang peduli
kepadanya.
Dia memang
tidak dekat dengan siapa-siapa di sekolah karena Felix melarang dirinya
mengikuti kegiatan apapun agar rahasia persaudaraan mereka tidak terbongkar.
Ajeng duduk
sendirian saja di depan kelas sambil melamun. Membayangkan kapan kakaknya akan
melunak dan berbaik hati kepadanya. Tapi sepertinya itu mustahil.
Ajeng
memegang kepalanya. Arghhhh, kenapa belakangan sakit kepala terus sih?
Staminanya semakin hari semakin lemah, tapi... tak pernah ada yang tahu. Ajeng
merasa sudah cukup merepotkan.
Ajeng membuka
resleting tasnya dan mengambil botol minum, berharap air dapat memulihkan sakit
kepalanya.
Setelah
meneguk air, ia ambil sebuah kertas yang terlipat dari dalam tasnya. Ia tatap
isi kertas itu dengan kepala yang pusing.
Entah kapan
ia bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Bunda dan Felix.
***
Sorenya,
Ajeng beserta seluruh siswa yang lain berbondong-bondong memenuhi ruangan
auditorium.
Hari ini
bertepatan dengan ulang tahun sekolah mereka. Sejak kemarin, memang sudah
banyak kegiatan yang terselenggarakan. Dan acara sore ini akan menjadi acara
penutup.
Jantung Ajeng
berdegup kencang ketika namanya dipanggil sang pembawa acara. Sekarang adalah
gilirannya untuk tampil.
Ketika Ajeng
mulai melangkahkan kakinya menuju podium, samar-samar ia bisa mendengar
celotehan semua orang tentang dirinya.
Ajeng bisa
memakluminya. Ia berjalan cuek dan mendudukkan dirinya tepat di hadapan sebuah
piano yang memang sudah disiapkan untuk penampilannya.
Sejenak ia
menutup matanya, menghirup napas dalam-dalam seraya mengumpulkan semua
keberaniannya.
Detik
berikutnya sebuah senyuman tersungging menghiasi wajah cantik gadis itu.
"Lagu
ini, aku persembahkan untuk kakakku... Kak Felix," ujar Ajeng membuat
siswa lain mendadak heboh. Pasalnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa
Ajeng adalah adik dari seorang cassanova sekolah mereka, Felix.
Ketika
dentingan piano mulai terdengar, suasana mendadak hening. Suara merdu Ajeng
memenuhi seisi ruangan. Menyanyikan lagu "Here Comes Goodbye" dari
Rascal Flatts.
Di awal lagu,
Felix masih terlihat kesal setengah mati karena Ajeng membongkar rahasianya.
Namun Felix
mulai tertegun menyaksikan penampilan Ajeng begitu adiknya masuk ke dalam reff.
Here comes the pain...
Here comes me wishing things had never changed..
And she was right here in my arms tonight, but here comes goodbye...
Felix tak
mengerti. Sebenarnya apa maksudnya menyanyikan lagu itu untuknya? Dia
seperti.... berpamitan? Ah, Ia bahkan tidak pernah tahu kalau adiknya itu
memiliki suara seindah ini, terlebih Ajeng ternyata pandai bermain piano.
Pandangan
Ajeng dan Felix bertemu sesaat di tengah lagu. Felix langsung membuang muka
begitu ia melihat senyuman Ajeng.
Sekuat tenaga
Ajeng menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menjalar ke seleruh tubuhnya.
Tidak, tidak.
Kumohon jangan sekarang, batin Ajeng sambil terus bernyanyi. Setidaknya ia harus
bisa menyelesaikan penampilannya.
Pandangan
Ajeng perlahan mulai kabur. Ia ingin menangis, tapi ia tidak bisa. Beberapa
detik lagi. Ajeng kembali membatin. Senyum di bibirnya tak pernah sekalipun ia
hilangkan dari wajahnya. Ajeng sudah bertekad untuk memberikan penampilan
terbaik demi kakaknya.
Ketika Ajeng
menekan tuts terakhir, lagu yang ia nyanyikan pun berakhir. Suara tepuk tangan
dan siulan pun langsung ia dapatkan dari seluruh orang yang menyaksikan
penampilannya.
Ajeng
tersenyum. Ia berdiri lalu membungkukkan sedikit tubuhnya. Memberi hormat
kepada semua yang ada di sana sebelum akhirnya turun dari atas panggung.
Selepas
penampilannya tadi, teman-teman Ajeng yang bahkan sebelumnya tidak pernah
berbicara dengannya, langsung mengerumuninya.
"Ajeng,
jadi lo itu adiknya kak Felix? tanya salah satu dari mereka.
Ajeng hanya
tersenyum, tidak berniat untuk menanggapi rentetan pertanyaan dari mereka.
Merasa tak
punya lagi urusan di sekolah, akhirnya Ajeng memutuskan untuk pulang. Ia
benar-benar harus istirahat jika tidak mau ambruk.
"Udah
puas lo ngebongkar semua rahasia yang udah gue jaga selama ini?" Sebuah
suara tiba-tiba saja mengintrupsi Ajeng sebelum ia keluar dari gerbang sekolah.
"Kak
Felix!" pekik Ajeng terkejut. Ia menatap keadaan sekitar yang tampak sepi.
Pantas saja kakaknya itu mau berbicara kepadanya.
"Maaf
kak, Ajeng gak maksud buat ngebongkar ra--"
"Udah
deh lo gak usah ngeles. Sekarang semua orang yang ada di sekolah ini tau kalau
lo itu adek gue. Selamat menikmati kepopuleran baru lo," kata Felix
sarkatis.
Ajeng
menundukkan kepalanya, menahan tangis. Kejam sekali pemikirannya. Padahal, ia
sama sekali tidak mengincar kepopuleran dari kakaknya.
"Seandainya
aja Ajeng boleh punya satu permintaan, Ajeng bakal minta supaya kak Felix mau
mengakui Ajeng sebagai adik kakak."
"Lo itu
bukan adik gue. Lo cuma anak dari si jalang yang udah ngerebut bokap gue."
Kata-kata
Felix barusan langsung menohok hati Ajeng. Fakta bahwa ia hanya seorang anak
haram kembali menggerogoti hatinya.
Ajeng selalu
merasa kalau dia tak seharusnya dilahirkan ke dunia ini. Meski ibu tirinya
selalu meyakinkan pada Ajeng kalau dirinya tidak apa-apa dan tidak merasa
keberatan untuk merawat Ajeng, tapi ia tetap merasa bersalah.
"Kalau
aja Ajeng tau cara gimana caranya supaya kak Felix mau nerima Ajeng, pasti
bakal langsung Ajeng lakuin," ujar Ajeng dengan suara parau.
"Ada.
Gue bakal maafin lo kalau lo pergi dari kehidupan gue selamanya."
Ajeng tertegun. Sebenci itukah
Felix pada dirinya? Apa ia memang harus pergi dari kehidupan Felix dan ibunya?
"Jadi...
Kak Felix lebih pengen Ajeng pergi?" tanya Ajeng lemah.
"Iya!
Pergi lo jauh-jauh dari kehidupan gue!" kata Felix dengan penuh penekenan.
Ajeng
menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang sudah hampir tumpah. Ia
membalikkan badannya, memunggungi Felix.
"......Ya
sudah. Kalau Kak Felix lebih bahagia Ajeng pergi, Ajeng...." Belum selesai
Ajeng berbicara, ia perlahan berjalan menjauh.
"Heh!
Mau kemana lo?! Gue belum selesai bicara!" Bentakan Felix kembali menggema.
Ajeng
berhenti di tempatnya. Ia tetap memungungi kakaknya. Dengan jarak yang tak
terlalu jauh, Ajeng kembali bersuara, "Seperti yang Ajeng bilang tadi kak,
Ajeng bakal nurutin apapun kemauan Kak Felix agar kak Felix mau maafin
Ajeng."
Felix menatap
Ajeng tak mengerti. Apa gadis itu sungguh-sungguh akan pergi dari rumahnya dan
tak merecokinya lagi?
"Tolong
sampaikan salam Ajeng buat Bunda ya kak, maaf Ajeng gak bisa pamitan langsung.
Makasih buat semuanya. Dan.... selamat tinggal, Kak!"
Felix masih tak
mengerti dengan ucapan Ajeng. Ia hanya menatap kepergian gadis itu dalam diam.
Memperhatikan setiap gerak-geriknya, sampai ia tersadar dengan suara keras yang
menghantam telinganya... BRAAAAAAAK!!
Dengan
ekspresi kaget, Felix langsung berlari keluar. Tiba-tiba rasa cemas langsung
mengganggunya. Begitu ia sampai di luar, orang-orang sudah ramai mengelilingi
satu tempat di tengah jalan.
"Felix,
Ajeng kecelakaan!" Salah seorang yang menyadari kehadiran Felix langsung
menghampirinya. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak meresponnya.
Felix
terdiam, kemudian langsung menerobos Alvin dan orang-orang yang mengelilingi
satu tempat itu.
"AJENG!!!"
Felix berteriak begitu ia berhasil melihat Ajeng yang sudah terkapar di sana
dengan penuh darah.
Badannya
sudah bergetar hebat melihat kondisi adiknya sekarang.
Semua sudah terlambat...
Hatinya
mencelos. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ajeng bunuh diri?
Karena dirinya?
Felix jatuh
tertuduk lemas di sebelah tubuh Ajeng. Ia bahkan tidak bisa mendengar teriakan
orang-orang di sekitarnya yang mulai berisik karena ia tidak merespon apapun.
Tubuhnya
masih terdiam kaku. Sementara itu samar-samar ia bisa melihat siluet tubuh
Ajeng yang sedang menatapnya dengan senyuman manis.
Apa ia sedang bermimpi?
Siluet yang
menyerupai Ajeng tampak melambaikan tangannya dan menghilang bersamaan dengan
jatuhnya setetes air mata Felix.
***SELESAI***
Gewlagewla ini serius aku gak
minta pakai nama ajeng wkwkwk. Kasian banget ya si gue gak di akui sama Felix
*nangis dipojokan*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar