Translate

Jumat, 26 Januari 2018

[Felix Zone] The Memories

Story By : Balee & Nadia
Genre : Teenfiction

edited by me

Di sini aku terduduk, memandang bintang-bintang bertebaran di langit malam. Embusan angin tampak menyejukkan hati yang panas, sepanas otakku saat mengingatnya.

"Apa yang kau pikirkan?"

Dua tahun lalu tepatnya, saat aku masih SMA. Felix bertanya kepadaku sambil tersenyum manis. Aku terpana.

"Aku.. ah tidak, aku tidak sedang melakukan apa-apa," jawabku malu. Aku yakin sekarang wajahku memerah menahan malu. Kulihat Felix semakin tersenyum lebar.

"Apa yang kau pikirkan? Mengaku saja, wajahmu memerah," kata Felix. Benar kan apa kataku.

Aku menurunkan kacamata minus ku. Buku yang aku baca tadi kini tinggallah sebuah buku tanpa arti, persis seperti dunia milik sendiri saat aku bersama Felix.

"Kau sendiri? Sedang apa kau di sini?" tanyaku. Wajahnya tiba-tiba murung, senyumannya menghilang digantikan dengan setetes air mata.

Pasti terjadi sesuatu!


"Dia, Anggun menolakku!" jawab Felix dengan bersimbah air mata.

DEG! Tiba-tiba kurasakan hatiku sakit, hampir saja air mataku tumpah kalau saja aku tidak menahannya.

"Ke.. kenapa?" tanyaku, "pasti ada sebabnya!" lanjutku.

Felix memandangku dengan pandangan getir. Wajahnya yang tampan kini habis dimakan oleh air mata, bibirnya menjadi pucat.

"Dia bilang dia menyukai Satria." Felix semakin keras menangis. Aku tidak tega melihatnya, dan meraihnya untuk berada di dalam dekapanku.

"Masih ada aku di sini," ujarku berusaha menyemangatinya. Kuusap air mata Felix, dia pun tersenyum lembut.

"Aku beruntung punya sahabat sepertimu, Ajeng!"

Just sahabat ya? Hehe tapi aku mau lebih.

***

Keesokan harinya.

"Selamat pagi sahabatku sayang.."

Suasana kelas begitu sepi pagi itu, namun sudah ada seorang laki-laki yang duduk di depan meja guru dengan santainya. Itu adalah Felix!

"Apa yang kau lakukan sepagi ini? Tidak biasanya kau datang secepat ini," ujarku sambil menaruh tas di tempat duduk. Tempat dudukku berada di sebelah Felix, atau bisa dikatakan kami adalah sahabat semeja.

"Kuputuskan aku harus menghirup udara segar dari neraka," jawabnya. Aku bingung dengan jawabannya, neraka? Memang dia habis dari neraka?

"Kau tidak pura-pura lupa, kan?" tanya Felix geram. Aku masih diam dengan pemikiran yang kurasa amat polos.

Oh, ternyata rumahnya yang ia maksud sebagai neraka.

"Apa ini? Kamus Arab?" tanya Felix. Dia mengambil sebuah buku besar yang ada di kolong meja ku dan membacanya. Matanya tampak serius dalam meneliti buku yang dia temukan, ekspresi wajahnya pun tidak dapat ditebak.

"Ibuku menyuruhnya untuk menghapal beberapa kosa kata," ujarku. Felix hanya menganggukkan kepalanya sembari terus melanjutkan kegiatannya.

Aku pergi ke lemari besar yang ada dipojok kelas untuk mengambil sapu. Hari ini adalah hari Rabu, dan memang kebetulan hari ini aku piket kelas.

"Wahesytani âwiy?" Felix berkata seperti itu kepadaku dengan tampang polosnya. Aku tertegun mendengarnya.

"Kau tahu artinya?" tanya Felix.

Aku menggeram, "Ommal leeh?" tanyaku. Bisa kulihat Felix hanya menunjukkan gigi putih berderetnya dengan tampang tak berdosa.

Aku kembali melanjutkan piketku dengan tujuan agar bisa menghindar dari pertanyaan Felix yang pasti menanyakan alasannya.

"Alasannya?" tanya Felix

Sudah pasti ku diamkan saja pertanyaan itu.

***

Bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, dan kulihat Felix masih asyik dengan ponsel yang tak pernah lepas dari pandangannya.

"Kau mau pulang tidak?" tanyaku sambil berbenah. Kulihat Felix menggelengkan kepalanya, tanda kalau dia tidak ingin pulang. Baguslah, setidaknya aku tak melihatnya pulang bersama motor gedenya yang hampir membuatku jantungan.

"Baiklah kalau itu maumu, aku pulang!" sahutku riang. Aku akan melompat keluar kelas sebelum...

"Aaaaaaaaaaa.."

Brukk! Kurasa aku mendarat di sebuah badan besar. Saat kubuka mataku, ternyata itu Felix yang sedang tersenyum jahil.

"Kenapa kau menindihku?" tanya Felix. Mataku melotot tajam, pipiku memerah.

"Ap.. apa maksudmu? Bukankah kau yang menarik tanganku?" tanyaku marah. Aku berusaha bangkit dari tubuh besar yang baru saja menjadi tempat tidur empuk bagiku.

"Siapa suruh kau melompat seperti kelinci?" tanya Felix. Dia menatap mataku dengan pandangan bertanya.

"Kita pulang bareng, aku yakin kau seperti ini karena takut hal kemarin terjadi, kan?" tanya Felix dengan penuh arti. Pipiku kembali memerah.

Kejadian kemarin yah? Saat aku disuruh untuk mencium pipinya sebagai ucapan terima kasih.

Apa yang kau pikirkan, Ajeng? Sadarlah!

"Nah sekarang, kau tampak seperti orang gila yang menggelengkan kepalanya."

***

"Kemana dia?"
"Dia sakit?"
"Dia izin?"
"Kenapa? Dia tidak hadir?"

Berbagai pertanyaan dan pikiran buruk memenuhi pikiranku. Aku khawatir karena bel akan segera berbunyi, Felix belum datang juga.

"Kau kemana, Felix sayang? Aku mengkhawatirkanmu," ujarku. Kupandangi tempat duduk kosong di sebelahku, tempat duduknya Felix.

Sepanjang pelajaran, aku hanya mampu melamun, memikirkan lelakiku yang menghilang tanpa kabar. Saat istirahat aku hanya mampu duduk di kursi sambil membayangkan Felix.

Oh sayang, kau ada di mana?

***

Rumah Felix sepi. Aku memandang rumah itu dengan pandangan bingung. Rumah itu benar-benar sepi tanpa ada seorang pun yang menghuninya. Kemana semua orang?

"Felixx.. Felix?!" Kucoba teriak memanggil nama pemuda itu, tetapi tidak ada jawaban.

"Felixx? Kau ada di rumah?" Kucoba kembali, tetapi hasilnya tetap sama.

"Hey adik kecil, apa yang kau lakukan di sana?" Aku menoleh ke kanan dan kiriku, tidak ada orang. Lalu, siapa yang memanggil adik kecil?

"Hey di atas sini," Aku menatap ke atas, tepat di belakangku ada seorang pemuda tampan dengan seribu pesonanya. Tapi, ugh hatiku sudah tertambat kepada Felix.

"Kau tahu Felix pergi kemana?" Tanyaku dengan suara agak keras. Kulihat pemuda itu tersenyum sedih.

"Kau temannya ya? Kau tidak tahu jika Felix pergi ke luar negeri?" Tanya nya. Mataku melotot, mulutku menganga saat menerima kenyataan pahit itu.

"Ap.. apa? Kau tak bercanda, kan?" Tanyaku. Matanya menatapku sengit.

"Kau kira aku bercanda, adik kecil? Tadi malam Felix dan keluarga nya pergi meninggalkan rumah dengan menaiki sebuah taxi."

Mataku berair. Felix pergi kemana? Ingin berbuat apa? Dan apa alasannya?

Mungkinkah alasannya karena dia ditolak oleh Anggun?

Jika memang inilah takdirnya, aku akan mengikhlaskan dirinya pergi..
Pergilah sejauh yang engkau mampu..
Larilah sejauh yang kau bisa..
Sembunyilah sejauh yang kau harapkan..
Semoga aku dan kau akan dipersatukan kembali.

***

> Beberapa Tahun kemudian <

Aku menatap satu persatu anak muridku yang keluar dari gerbang sekolah. Wajah mereka nampak cerah dan ceria saat disambut hangat oleh pelukan ibundanya. Mereka benar-benar tampak bahagia, dengan segala sesuatu yang mereka miliki.

Tiba-tiba aku terdiam. Pikiran yang selama ini aku enyahkan kembali datang. Kira-kira dia sedang apa ya? Apakah dia masih hidup?

"Hey, Wahesytani âwiy?" Ah aku bermimpi! Mungkin karena aku merindukannya, makanya aku mendengar suaranya.

Aku kembali hidup ke dunia. Menatap ke jalan raya besar sambil menunggu angkutan kota yang membawaku sampai ke depan gang rumahku. Aku masih baik-baik saja sampai suara Felix itu datang kembali.

"Kau mengacuhkanku, jawab sekarang. Kau merindukanku?" Aku tertegun. Entah keberapa kalinya suara ini muncul.

Aku menoleh ke belakangku, di sana ada seseorang pemuda tampan menggunakan topi hitam lebar. Aku tahu gaya berpakaian siapa itu!

"Felixx?!" Tebakku terkejut. Dia mengangguk sambil membuka topinya.

Itu benar-benar Felix!

"Thanks God, akhirnya aku dipertemukan dengannya!"

***

Kini kami berada di sebuah taman bermain. Saling menatap satu sama lain. Bunyi derasnya hujan mengalahkan bunyi sebuah kerinduan.

Kini dia semakin tampan. Dia semakin dewasa. Tidak ada yang berubah darinya kecuali sebuah kumis tipis menghiasi bagian antara bibir dan hidungnya.

"Kemana saja kau?" Tanyaku dengan linangan air mata. Syukron ya Tuhan. Akhirnya kau menjawab doaku.

"Aku? Aku hanya pergi keluar negeri untuk berobat," jawab Felix santai. Dia memandang langit yang menggelap dan menangis. Hembusan nafasnya terdengar berat dengan seiring petir yang saling menyambar.
           
"Untuk apa? Kau sakit apa memang?" Tanyaku kaget. Jujur baru kali ini aku mendengar kata berobat dari mulutnya.

"Kanker," jawabnya santai. Aku terdiam.

Apa katanya? Kanker?

"Kau tidak berencana pergi meninggalkanku, kan?" Tanyaku. Aku menatap was-was kepada dirinya.

"Tidak. Justru aku ingin menikahimu," seketika dia memelukku. Membawa hatiku kepada genggaman tangannya dan pergi terbang menuju angkasa. Merasakan betapa nikmatnya melihat dunia bersama manusia yang kucintai.

Hari itu benar-benar hebat. Tidak kusangka, sebuah penantian kecilku berujung hal yang indah.

Syukron ya Tuhan, dan terima kasih.

***SELESAI***

Duh watirnya si gue cuma di sahabat-zone-in wkwkwkwk

1 komentar:

  1. Pembukaan tahun baru yang ke 2020 kali ini
    akan kami berikan beberapa prediksi sepakbola di tahun baru 2020 kali ini
    Dari hasilbola.vip akan memberikan bocoran prediksi khususnya Mix Parlay untuk anda.

    Berikut yang terupdate dari hasilbola.vip
    Terima kasih sudah mengizinkan saya berkomentar di sini.

    Prediksi Bola Brighton vs Chelsea 01 Januari 2020
    https://hasilbola.vip/prediksi-sepakbola/baca/3274/brighton-vs-chelsea-01-januari-2020/

    Prediksi Bola Newcastle vs Leicester 01 Desember 2020
    https://hasilbola.vip/prediksi-sepakbola/baca/3277/newcastle-vs-leicester-01-desember-2020/

    BalasHapus