Story By : Balee & Nadia
Genre : Teenfiction
![]() |
edited by me
|
Di sini aku
terduduk, memandang bintang-bintang bertebaran di langit malam. Embusan angin
tampak menyejukkan hati yang panas, sepanas otakku saat mengingatnya.
"Apa
yang kau pikirkan?"
Dua tahun
lalu tepatnya, saat aku masih SMA. Felix bertanya kepadaku sambil tersenyum
manis. Aku terpana.
"Aku..
ah tidak, aku tidak sedang melakukan apa-apa," jawabku malu. Aku yakin
sekarang wajahku memerah menahan malu. Kulihat Felix semakin tersenyum lebar.
"Apa yang
kau pikirkan? Mengaku saja, wajahmu memerah," kata Felix. Benar kan apa
kataku.
Aku
menurunkan kacamata minus ku. Buku yang aku baca tadi kini tinggallah sebuah
buku tanpa arti, persis seperti dunia milik sendiri saat aku bersama Felix.
"Kau
sendiri? Sedang apa kau di sini?" tanyaku. Wajahnya tiba-tiba murung,
senyumannya menghilang digantikan dengan setetes air mata.
Pasti terjadi sesuatu!
"Dia,
Anggun menolakku!" jawab Felix dengan bersimbah air mata.
DEG!
Tiba-tiba kurasakan hatiku sakit, hampir saja air mataku tumpah kalau saja aku
tidak menahannya.
"Ke..
kenapa?" tanyaku, "pasti ada sebabnya!" lanjutku.
Felix
memandangku dengan pandangan getir. Wajahnya yang tampan kini habis dimakan
oleh air mata, bibirnya menjadi pucat.
"Dia
bilang dia menyukai Satria." Felix semakin keras menangis. Aku tidak tega
melihatnya, dan meraihnya untuk berada di dalam dekapanku.
"Masih
ada aku di sini," ujarku berusaha menyemangatinya. Kuusap air mata Felix,
dia pun tersenyum lembut.
"Aku
beruntung punya sahabat sepertimu, Ajeng!"
Just sahabat ya? Hehe tapi aku
mau lebih.
***
Keesokan harinya.
"Selamat
pagi sahabatku sayang.."
Suasana kelas
begitu sepi pagi itu, namun sudah ada seorang laki-laki yang duduk di depan
meja guru dengan santainya. Itu adalah Felix!
"Apa
yang kau lakukan sepagi ini? Tidak biasanya kau datang secepat ini,"
ujarku sambil menaruh tas di tempat duduk. Tempat dudukku berada di sebelah
Felix, atau bisa dikatakan kami adalah sahabat semeja.
"Kuputuskan
aku harus menghirup udara segar dari neraka," jawabnya. Aku bingung dengan
jawabannya, neraka? Memang dia habis dari neraka?
"Kau
tidak pura-pura lupa, kan?" tanya Felix geram. Aku masih diam dengan
pemikiran yang kurasa amat polos.
Oh, ternyata rumahnya yang ia
maksud sebagai neraka.
"Apa
ini? Kamus Arab?" tanya Felix. Dia mengambil sebuah buku besar yang ada di
kolong meja ku dan membacanya. Matanya tampak serius dalam meneliti buku yang
dia temukan, ekspresi wajahnya pun tidak dapat ditebak.
"Ibuku
menyuruhnya untuk menghapal beberapa kosa kata," ujarku. Felix hanya
menganggukkan kepalanya sembari terus melanjutkan kegiatannya.
Aku pergi ke
lemari besar yang ada dipojok kelas untuk mengambil sapu. Hari ini adalah hari
Rabu, dan memang kebetulan hari ini aku piket kelas.
"Wahesytani âwiy?" Felix berkata
seperti itu kepadaku dengan tampang polosnya. Aku tertegun mendengarnya.
"Kau
tahu artinya?" tanya Felix.
Aku
menggeram, "Ommal leeh?" tanyaku. Bisa kulihat Felix hanya
menunjukkan gigi putih berderetnya dengan tampang tak berdosa.
Aku kembali
melanjutkan piketku dengan tujuan agar bisa menghindar dari pertanyaan Felix
yang pasti menanyakan alasannya.
"Alasannya?"
tanya Felix
Sudah pasti ku diamkan saja
pertanyaan itu.
***
Bel pulang
sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, dan kulihat Felix masih asyik
dengan ponsel yang tak pernah lepas dari pandangannya.
"Kau mau
pulang tidak?" tanyaku sambil berbenah. Kulihat Felix menggelengkan
kepalanya, tanda kalau dia tidak ingin pulang. Baguslah, setidaknya aku tak melihatnya
pulang bersama motor gedenya yang hampir membuatku jantungan.
"Baiklah
kalau itu maumu, aku pulang!" sahutku riang. Aku akan melompat keluar
kelas sebelum...
"Aaaaaaaaaaa.."
Brukk! Kurasa
aku mendarat di sebuah badan besar. Saat kubuka mataku, ternyata itu Felix yang
sedang tersenyum jahil.
"Kenapa
kau menindihku?" tanya Felix. Mataku melotot tajam, pipiku memerah.
"Ap..
apa maksudmu? Bukankah kau yang menarik tanganku?" tanyaku marah. Aku
berusaha bangkit dari tubuh besar yang baru saja menjadi tempat tidur empuk
bagiku.
"Siapa
suruh kau melompat seperti kelinci?" tanya Felix. Dia menatap mataku
dengan pandangan bertanya.
"Kita
pulang bareng, aku yakin kau seperti ini karena takut hal kemarin terjadi,
kan?" tanya Felix dengan penuh arti. Pipiku kembali memerah.
Kejadian
kemarin yah? Saat aku disuruh untuk mencium pipinya sebagai ucapan terima
kasih.
Apa yang kau pikirkan, Ajeng?
Sadarlah!
"Nah
sekarang, kau tampak seperti orang gila yang menggelengkan kepalanya."
***
"Kemana dia?"
"Dia sakit?"
"Dia izin?"
"Kenapa? Dia tidak
hadir?"
Berbagai
pertanyaan dan pikiran buruk memenuhi pikiranku. Aku khawatir karena bel akan
segera berbunyi, Felix belum datang juga.
"Kau
kemana, Felix sayang? Aku mengkhawatirkanmu," ujarku. Kupandangi tempat duduk
kosong di sebelahku, tempat duduknya Felix.
Sepanjang
pelajaran, aku hanya mampu melamun, memikirkan lelakiku yang menghilang tanpa
kabar. Saat istirahat aku hanya mampu duduk di kursi sambil membayangkan Felix.
Oh sayang, kau ada di mana?
***
Rumah Felix
sepi. Aku memandang rumah itu dengan pandangan bingung. Rumah itu benar-benar
sepi tanpa ada seorang pun yang menghuninya. Kemana semua orang?
"Felixx..
Felix?!" Kucoba teriak memanggil nama pemuda itu, tetapi tidak ada
jawaban.
"Felixx?
Kau ada di rumah?" Kucoba kembali, tetapi hasilnya tetap sama.
"Hey
adik kecil, apa yang kau lakukan di sana?" Aku menoleh ke kanan dan
kiriku, tidak ada orang. Lalu, siapa yang memanggil adik kecil?
"Hey di
atas sini," Aku menatap ke atas, tepat di belakangku ada seorang pemuda
tampan dengan seribu pesonanya. Tapi, ugh hatiku sudah tertambat kepada Felix.
"Kau
tahu Felix pergi kemana?" Tanyaku dengan suara agak keras. Kulihat pemuda
itu tersenyum sedih.
"Kau
temannya ya? Kau tidak tahu jika Felix pergi ke luar negeri?" Tanya nya.
Mataku melotot, mulutku menganga saat menerima kenyataan pahit itu.
"Ap..
apa? Kau tak bercanda, kan?" Tanyaku. Matanya menatapku sengit.
"Kau
kira aku bercanda, adik kecil? Tadi malam Felix dan keluarga nya pergi
meninggalkan rumah dengan menaiki sebuah taxi."
Mataku
berair. Felix pergi kemana? Ingin berbuat apa? Dan apa alasannya?
Mungkinkah
alasannya karena dia ditolak oleh Anggun?
Jika memang inilah takdirnya, aku akan mengikhlaskan dirinya pergi..
Pergilah sejauh yang engkau mampu..
Larilah sejauh yang kau bisa..
Sembunyilah sejauh yang kau harapkan..
Semoga aku dan kau akan dipersatukan kembali.
***
> Beberapa Tahun kemudian
<
Aku menatap
satu persatu anak muridku yang keluar dari gerbang sekolah. Wajah mereka nampak
cerah dan ceria saat disambut hangat oleh pelukan ibundanya. Mereka benar-benar
tampak bahagia, dengan segala sesuatu yang mereka miliki.
Tiba-tiba aku
terdiam. Pikiran yang selama ini aku enyahkan kembali datang. Kira-kira dia
sedang apa ya? Apakah dia masih hidup?
"Hey, Wahesytani âwiy?" Ah aku bermimpi!
Mungkin karena aku merindukannya, makanya aku mendengar suaranya.
Aku kembali
hidup ke dunia. Menatap ke jalan raya besar sambil menunggu angkutan kota yang
membawaku sampai ke depan gang rumahku. Aku masih baik-baik saja sampai suara
Felix itu datang kembali.
"Kau
mengacuhkanku, jawab sekarang. Kau merindukanku?" Aku tertegun. Entah keberapa
kalinya suara ini muncul.
Aku menoleh
ke belakangku, di sana ada seseorang pemuda tampan menggunakan topi hitam
lebar. Aku tahu gaya berpakaian siapa itu!
"Felixx?!"
Tebakku terkejut. Dia mengangguk sambil membuka topinya.
Itu benar-benar Felix!
"Thanks
God, akhirnya aku dipertemukan dengannya!"
***
Kini kami
berada di sebuah taman bermain. Saling menatap satu sama lain. Bunyi derasnya
hujan mengalahkan bunyi sebuah kerinduan.
Kini dia
semakin tampan. Dia semakin dewasa. Tidak ada yang berubah darinya kecuali
sebuah kumis tipis menghiasi bagian antara bibir dan hidungnya.
"Kemana
saja kau?" Tanyaku dengan linangan air mata. Syukron ya Tuhan. Akhirnya
kau menjawab doaku.
"Aku?
Aku hanya pergi keluar negeri untuk berobat," jawab Felix santai. Dia
memandang langit yang menggelap dan menangis. Hembusan nafasnya terdengar berat
dengan seiring petir yang saling menyambar.
"Untuk
apa? Kau sakit apa memang?" Tanyaku kaget. Jujur baru kali ini aku
mendengar kata berobat dari mulutnya.
"Kanker,"
jawabnya santai. Aku terdiam.
Apa katanya? Kanker?
"Kau
tidak berencana pergi meninggalkanku, kan?" Tanyaku. Aku menatap was-was
kepada dirinya.
"Tidak.
Justru aku ingin menikahimu," seketika dia memelukku. Membawa hatiku
kepada genggaman tangannya dan pergi terbang menuju angkasa. Merasakan betapa
nikmatnya melihat dunia bersama manusia yang kucintai.
Hari itu
benar-benar hebat. Tidak kusangka, sebuah penantian kecilku berujung hal yang
indah.
Syukron ya
Tuhan, dan terima kasih.
***SELESAI***
Duh watirnya si gue cuma di
sahabat-zone-in wkwkwkwk

Pembukaan tahun baru yang ke 2020 kali ini
BalasHapusakan kami berikan beberapa prediksi sepakbola di tahun baru 2020 kali ini
Dari hasilbola.vip akan memberikan bocoran prediksi khususnya Mix Parlay untuk anda.
Berikut yang terupdate dari hasilbola.vip
Terima kasih sudah mengizinkan saya berkomentar di sini.
Prediksi Bola Brighton vs Chelsea 01 Januari 2020
https://hasilbola.vip/prediksi-sepakbola/baca/3274/brighton-vs-chelsea-01-januari-2020/
Prediksi Bola Newcastle vs Leicester 01 Desember 2020
https://hasilbola.vip/prediksi-sepakbola/baca/3277/newcastle-vs-leicester-01-desember-2020/