Aku duduk di
kursi koridor yang menghadap ke lapangan sepak bola. Setiap harinya di saat
waktu istirahat tiba aku menghabiskannya ditempat ini. Jika kursi ini sudah
ditempati orang, aku akan duduk di kursi yang lain. Terkadang sambil menyantap
bekal makan siangku.
Oh, jujur
saja aku merasa bahwa aku ini sangat menyedihkan. Aku tidak pernah memiliki
keberanian untuk menghampiri pria bernomor punggung duapuluh empat di lapangan
itu. Aku tidak seperti gadis-gadis pemandu sorak yang berani secara
terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Sungguh miris.
"Kebiasaan!"
Aku menoleh
pada orang yang berdecak itu. Ternyata Felix, teman sekelasku.
"Apa
sih?" balasku.
"Emangnya
gak capek ya, tiap hari mandangin dia sementara dianya dikerubungi gadis-gadis
cantik dan seksi."
Aku
menyipit kearahnya. Entah apa maksudnya dia berkata seperti itu. Mungkin dia
sengaja ingin membuat aku cemburu.
"Aku
udah kebal. Lihat Erik Durm punya pacar aja aku gak nangis, kok," kataku
asal.
Aku jadi
teringat dengan pria bermata emerald itu. Sudah lama aku tidak
mencari-cari info tentang Erik Durm. Bagaimana dia sekarang ya? Apa masih
dengan kekasihnya? Atau... lupakan.
"Tapi
kata Kak Laura kamu nangis kejer gara-gara lihat video pengakuan Erik Durm soal
pacarnya itu."
Skak! Roti
bakar buatan Ibuku yang sedang ku telan ini tercekat di kerongkonganku. Memang
benar sih aku menangis. Tapi... bagaimana Felix tau? Apa Kak Laura sendiri yang
menceritakannya? Atau dia menguping pembicaraan kami di telepon? Atau dia men-stalk percakapan di akun sosial media
kami? Oh ya, Kak Laura itu adalah kakaknya Felix.
"Nyanyiin
lagu Fans Far Strong Anthem dong!" pinta Felix. Di pangkuannya
sudah ada gitar coklat yang entah sejak kapan ada di sana.
"Kenapa
sih kamu suka banget sama lagu itu? Itu kan bikinnya cuma iseng-iseng sama
kakak kamu dalam rangka menghibur diri dari para pemain bola yang sudah punya
pacar."
"Satu
kali saja."
Fans Far
Strong Anthem pun aku nyanyikan. Sebenarnya ini tidak ada chord-nya. Aku biasa menyanyikannya
secara asal-asalan, dan Felix mengikuti menggunakan gitar dan membuat suara
dua. Tapi terkadang aku merasa bahwa lagu abstrak ciptaan aku dan Kak Laura ini
sangat menganggumkan. Cukup untuk mewakili semua perasaan fans far yang idolanya sudah memiliki kekasih.
"Buat
kamu." Felix mengeluarkan sebuah coklat dari sakunya. Coklat itu berbentuk
hati dan berwarna merah jambu, dimasukkan ke dalam kotak dan diberi pita
diatasnya. Lucu sekali.
"Sejak
kapan kamu jadi romantis gini?"
"Siapa
yang romantis?" Felix mendecak. "Itu sudah lama ada di kulkas.
Kayaknya sejak valentine. Daripada mubazir lebih baik aku kasih ke kamu."
Sembarangan!
Aku memukul
lengan Felix hingga dia akhirnya mengaku bahwa coklat itu adalah titipan dari
Kak Laura. Kakak itu baik juga ya. Mungkin ini sebagai hiburan agar hati aku
tidak broken lagi. Nasib fans far
memang seperti ini.. Lalala~
"Bilangin
terimakasih sama Kak Laura," kataku dengan senang.
"Mungkin
lama-kelamaan dia bakalan lupa kalau aku ini adik kandungnya," keluh
Felix.
"Emangnya
kenapa?"
"Dia aja
gak pernah ngasih aku coklat atau makanan. Apalagi dengerin curhatan aku."
Aku tertawa.
"Kamu kan laki-laki. Mungkin Kak Laura geli kalau denger curhatan kamu.
Haha."
"Menyebalkan!"
dia pergi meninggalkanku.
Sebelum
benar-benar pergi, dia mengacak-ngacak poniku. Aku bersumpah bahwa dialah yang
sangat menyebalkan. Apa dia tidak tahu bagaimana susahnya aku menata poniku
ini? Dan aku harus menggunakan hair spray
agar tidak goyang-goyang dan pecah dari formasinya.
Sementara
Felix pergi, aku masih memandang kearah lapangan. Ah pria bernomor punggung sembilan itu masih ada. Yang aku dengar, sebentar lagi ada pertandingan sepak bola
antar sekolah. Maka dari itu selama seminggu terakhir ini dia selalu berlatih
setiap hari.
Namanya Sinan
Kurt. Dia Kakak kelasku disini, tepatnya kelas duabelas yang kebetulan satu
kelas dengan Kak Laura. Aku sendiri masih kelas sepuluh.
Posisi Sinan
di dalam kesebelasan sebagai midfielder.
Mungkin Sinan tidak semenonjol Julian Brandt. Dia juga tidak setinggi Timo
Baumgartl. Tapi yang aku suka dari dia adalah senyumannya yang sangat khas.
Jika melihat foto-foto selfienya di sosial media, rasanya aku ingin memasang
borgol dimasing-masing tangan kita agar kita bisa selalu bersama. Apalagi kata
kak Laura, dia juga lahir pada bulan Juli, bulan yang sama denganku.
Sedang
asyik-asyiknya memandang, tiba-tiba bel masuk berbunyi dengan sangat nyaring.
Apa bel itu tidak bisa mengerti sedikit bahwa aku sedang memandangi pangeranku?
Waktu istirahat tiga puluh menit ini sungguh terasa sangat singkat, berbeda
jika dibandingkan dengan pelajaran dikelas.
***
Aku nyaris menelan Felix
hidup-hidup.
Mungkin ini
terlalu gila. Mungkin juga terdengar aneh. Tapi anak yg bernama Felix itu
sangat menyebalkan. Dia terus menyindirku saat guru yang saat ini sedang
mengajar membicarakan tentang teman wanitanya dulu semasa kuliah yang hanya
berani memandang orang yang disukainya dari jauh. Menyebalkan. Untuk apa guruku
membicarakan temannya yang malang itu?
Eh, tunggu,
kenapa nasib teman wanita yang diceritakan guruku itu sama dengan nasibku? Apa
yang ada diceritanya itu sebenarnya adalah aku? Dan dia sengaja menyamarkan
seperti oknum-oknum nakal di reportase invenstigasi?
Dan itu
membuat Felix dengan puasnya menyindir diriku yang tidak berdaya ini.
Mendengar
tawa kerasnya, aku berdoa supaya kotak suaranya rusak seperti milik Squidword.
Atau tiba-tiba ada lalat yang tidak diundang masuk ke kerongkongannya hingga ia
tersedak seperti petugas kesehatan di kartun Spongebob. Kemudian dimasukkan ke dalam
lemari pendingin dan berubah menjadi zombi. Lalu polisi yang terkejut melihat
keberadaannya langsung memukuli kepalanya dengan benda-benda berat semacam
jangkar.
Oke, ini
tidak masuk akal. Tapi... awas saja aku tidak akan memberikan contekan tugas
apapun tanpa terkecuali.
"Alea
kan hanya fans far yang berusaha
tersenyum meskipun sedang broken,"
kata Felix yang disambut tawa keras teman-teman sekelasku.
Jadilah
suasana kelas gaduh dan hingga pulang pun seperti ini. Meski aku yang jadi
bulan-bulanan Felix, tapi itu membawa berkah. Setidaknya aku tidak harus
merasakan kram otak untuk menyimak materi yang disampaikan guru itu.
Oh Kimia...
***
Aku biasa
dijemput oleh Ibuku ketika pulang sekolah. Tapi entah kenapa dia lama sekali.
Aku sudah satu jam menunggu di pos satpam. Kalau tau akan lama seperti ini,
lebih baik aku memandang pangeranku di lapangan. Seperti kataku tadi kalau
minggu depan ada pertandingan antar sekolah jadi ia dan timnya berlatih tanpa kenal
lelah. Tidak terbayang jika aku yang ada diposisinya. Mungkin aku sudah
terkapar karena kelelahan.
"Nungguin
siapa, Dek?" tanya Kak Laura yang tiba-tiba muncul dihadapanku.
"Eh?
Ibuku, Kak."
"Oh, gak
coba di telpon?"
"Aku
lupa bawa hp."
"Nih
pake punyaku." dia mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Aku kan
gak hapal nomor Ibu."
Kak Laura
mendecak. "Kamu ini. Giliran nomornya Sinan aja hapal."
Seratus untuk
Kak Laura! Aku hapal dan sangat hapal dengan nomor ponsel pangeranku itu. Kak
Laura yang memberikannya secara cuma-cuma saat aku curhat tentang perasaanku
terhadap Sinan. Tapi sampai sekarang aku belum pernah mencoba menghubunginya.
Aku takut. Takut tidak dibalas, atau dibalas tapi dengan kata-kata yang
menyakitkan.
"Felix
mana?" tanya Kak Laura.
"Udah
pulang dari tadi, Kak."
"Kenapa
gak minta dianterin pulang sama dia?"
"Aku kan
gak tau kalau Ibu bakalan lama ngejemputnya."
"Oh. Ya
udah, aku duluan ya. Aku banyak tugas nih, maaf gak bisa nemenin."
"Iya,
Kak, gak apa-apa."
Kak Laura
pergi. Arah rumahku dan rumahnya berbeda. Sebenarnya aku bisa saja naik
angkutan umum, tapi masalahnya kalau dijemput Ibu kan bisa ngirit ongkos. Jadi
uang ongkosnya bisa aku tabung untuk membeli kado ulang tahunnya Sinan.
Duapuluh
menit berselang, Ibuku baru datang. Katanya dia ada urusan mendadak bersama
teman arisannya. Ya sudah tidak apa-apa. Lagipula tadi aku ditemani mengobrol
oleh Om Ian, satpam disekolahku. Dan kami membicarakan tentang sepak bola.
"Om aku
duluan ya. Dadah, Om."
"Yoi!"
Saat aku akan
naik keatas motor Ibuku, aku melihat Sinan yang akan keluar gerbang dengan
motornya. Oh, latihannya sudah selesai ternyata. Dan ia terlihat sedang
mengobrol dengan Om Ian. Lalu dia memandangku sebentar. Dan mendadak aku
menyesal. Andai Ibuku telat menjemput dua menit saja. Mungkin aku bisa pulang
bersama Sinan. Kebetulan Om Ian tau soal perasaanku kepada Sinan. Dia bisa
beralih menjadi cupid.
"Alea,
ayo naik!" ujar Ibuku. Ah sial, Sinan membuatku melamun. Aku tidak sanggup
melewatkan sedetikpun ketampanannya.
---Bersambung---
Part 2
Part 2


Tidak ada komentar:
Posting Komentar