Translate

Sabtu, 15 Juli 2017

AF Team (1)

AF Team Chapter 1

Sinan MaiLaff


Inilah hidupku.
Aku duduk di kursi koridor yang menghadap ke lapangan sepak bola. Setiap harinya di saat waktu istirahat tiba aku menghabiskannya ditempat ini. Jika kursi ini sudah ditempati orang, aku akan duduk di kursi yang lain. Terkadang sambil menyantap bekal makan siangku.


Oh, jujur saja aku merasa bahwa aku ini sangat menyedihkan. Aku tidak pernah memiliki keberanian untuk menghampiri pria bernomor punggung duapuluh empat di lapangan itu. Aku tidak seperti gadis-gadis pemandu sorak yang berani secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Sungguh miris.

"Kebiasaan!"

Aku menoleh pada orang yang berdecak itu. Ternyata Felix, teman sekelasku.

"Apa sih?" balasku.

"Emangnya gak capek ya, tiap hari mandangin dia sementara dianya dikerubungi gadis-gadis cantik dan seksi."

     Aku menyipit kearahnya. Entah apa maksudnya dia berkata seperti itu. Mungkin dia sengaja ingin membuat aku cemburu.

"Aku udah kebal. Lihat Erik Durm punya pacar aja aku gak nangis, kok," kataku asal.

Aku jadi teringat dengan pria bermata emerald itu. Sudah lama aku tidak mencari-cari info tentang Erik Durm. Bagaimana dia sekarang ya? Apa masih dengan kekasihnya? Atau... lupakan.

"Tapi kata Kak Laura kamu nangis kejer gara-gara lihat video pengakuan Erik Durm soal pacarnya itu."

Skak! Roti bakar buatan Ibuku yang sedang ku telan ini tercekat di kerongkonganku. Memang benar sih aku menangis. Tapi... bagaimana Felix tau? Apa Kak Laura sendiri yang menceritakannya? Atau dia menguping pembicaraan kami di telepon? Atau dia men-stalk percakapan di akun sosial media kami? Oh ya, Kak Laura itu adalah kakaknya Felix.

"Nyanyiin lagu Fans Far Strong Anthem dong!" pinta Felix. Di pangkuannya sudah ada gitar coklat yang entah sejak kapan ada di sana.

"Kenapa sih kamu suka banget sama lagu itu? Itu kan bikinnya cuma iseng-iseng sama kakak kamu dalam rangka menghibur diri dari para pemain bola yang sudah punya pacar."

"Satu kali saja."

Fans Far Strong Anthem pun aku nyanyikan. Sebenarnya ini tidak ada chord­-nya. Aku biasa menyanyikannya secara asal-asalan, dan Felix mengikuti menggunakan gitar dan membuat suara dua. Tapi terkadang aku merasa bahwa lagu abstrak ciptaan aku dan Kak Laura ini sangat menganggumkan. Cukup untuk mewakili semua perasaan fans far yang idolanya sudah memiliki kekasih.

"Buat kamu." Felix mengeluarkan sebuah coklat dari sakunya. Coklat itu berbentuk hati dan berwarna merah jambu, dimasukkan ke dalam kotak dan diberi pita diatasnya. Lucu sekali.

"Sejak kapan kamu jadi romantis gini?"

"Siapa yang romantis?" Felix mendecak. "Itu sudah lama ada di kulkas. Kayaknya sejak valentine. Daripada mubazir lebih baik aku kasih ke kamu."

Sembarangan!

Aku memukul lengan Felix hingga dia akhirnya mengaku bahwa coklat itu adalah titipan dari Kak Laura. Kakak itu baik juga ya. Mungkin ini sebagai hiburan agar hati aku tidak broken lagi. Nasib fans far memang seperti ini.. Lalala~

"Bilangin terimakasih sama Kak Laura," kataku dengan senang.

"Mungkin lama-kelamaan dia bakalan lupa kalau aku ini adik kandungnya," keluh Felix.

"Emangnya kenapa?"

"Dia aja gak pernah ngasih aku coklat atau makanan. Apalagi dengerin curhatan aku."

Aku tertawa. "Kamu kan laki-laki. Mungkin Kak Laura geli kalau denger curhatan kamu. Haha."

"Menyebalkan!" dia pergi meninggalkanku.

Sebelum benar-benar pergi, dia mengacak-ngacak poniku. Aku bersumpah bahwa dialah yang sangat menyebalkan. Apa dia tidak tahu bagaimana susahnya aku menata poniku ini? Dan aku harus menggunakan hair spray agar tidak goyang-goyang dan pecah dari formasinya.

Sementara Felix pergi, aku masih memandang kearah lapangan. Ah pria bernomor punggung sembilan itu masih ada. Yang aku dengar, sebentar lagi ada pertandingan sepak bola antar sekolah. Maka dari itu selama seminggu terakhir ini dia selalu berlatih setiap hari.



Namanya Sinan Kurt. Dia Kakak kelasku disini, tepatnya kelas duabelas yang kebetulan satu kelas dengan Kak Laura. Aku sendiri masih kelas sepuluh.

Posisi Sinan di dalam kesebelasan sebagai midfielder. Mungkin Sinan tidak semenonjol Julian Brandt. Dia juga tidak setinggi Timo Baumgartl. Tapi yang aku suka dari dia adalah senyumannya yang sangat khas. Jika melihat foto-foto selfienya di sosial media, rasanya aku ingin memasang borgol dimasing-masing tangan kita agar kita bisa selalu bersama. Apalagi kata kak Laura, dia juga lahir pada bulan Juli, bulan yang sama denganku.

Sedang asyik-asyiknya memandang, tiba-tiba bel masuk berbunyi dengan sangat nyaring. Apa bel itu tidak bisa mengerti sedikit bahwa aku sedang memandangi pangeranku? Waktu istirahat tiga puluh menit ini sungguh terasa sangat singkat, berbeda jika dibandingkan dengan pelajaran dikelas.

***

Aku nyaris menelan Felix hidup-hidup.
Mungkin ini terlalu gila. Mungkin juga terdengar aneh. Tapi anak yg bernama Felix itu sangat menyebalkan. Dia terus menyindirku saat guru yang saat ini sedang mengajar membicarakan tentang teman wanitanya dulu semasa kuliah yang hanya berani memandang orang yang disukainya dari jauh. Menyebalkan. Untuk apa guruku membicarakan temannya yang malang itu?

Eh, tunggu, kenapa nasib teman wanita yang diceritakan guruku itu sama dengan nasibku? Apa yang ada diceritanya itu sebenarnya adalah aku? Dan dia sengaja menyamarkan seperti oknum-oknum nakal di reportase invenstigasi?

Dan itu membuat Felix dengan puasnya menyindir diriku yang tidak berdaya ini.

Mendengar tawa kerasnya, aku berdoa supaya kotak suaranya rusak seperti milik Squidword. Atau tiba-tiba ada lalat yang tidak diundang masuk ke kerongkongannya hingga ia tersedak seperti petugas kesehatan di kartun Spongebob. Kemudian dimasukkan ke dalam lemari pendingin dan berubah menjadi zombi. Lalu polisi yang terkejut melihat keberadaannya langsung memukuli kepalanya dengan benda-benda berat semacam jangkar.

Oke, ini tidak masuk akal. Tapi... awas saja aku tidak akan memberikan contekan tugas apapun tanpa terkecuali.

"Alea kan hanya fans far yang berusaha tersenyum meskipun sedang broken," kata Felix yang disambut tawa keras teman-teman sekelasku.

Jadilah suasana kelas gaduh dan hingga pulang pun seperti ini. Meski aku yang jadi bulan-bulanan Felix, tapi itu membawa berkah. Setidaknya aku tidak harus merasakan kram otak untuk menyimak materi yang disampaikan guru itu.

Oh Kimia...

***

Aku biasa dijemput oleh Ibuku ketika pulang sekolah. Tapi entah kenapa dia lama sekali. Aku sudah satu jam menunggu di pos satpam. Kalau tau akan lama seperti ini, lebih baik aku memandang pangeranku di lapangan. Seperti kataku tadi kalau minggu depan ada pertandingan antar sekolah jadi ia dan timnya berlatih tanpa kenal lelah. Tidak terbayang jika aku yang ada diposisinya. Mungkin aku sudah terkapar karena kelelahan.

"Nungguin siapa, Dek?" tanya Kak Laura yang tiba-tiba muncul dihadapanku.

"Eh? Ibuku, Kak."

"Oh, gak coba di telpon?"

"Aku lupa bawa hp."

"Nih pake punyaku." dia mengeluarkan ponsel dari sakunya.

"Aku kan gak hapal nomor Ibu."

Kak Laura mendecak. "Kamu ini. Giliran nomornya Sinan aja hapal."

Seratus untuk Kak Laura! Aku hapal dan sangat hapal dengan nomor ponsel pangeranku itu. Kak Laura yang memberikannya secara cuma-cuma saat aku curhat tentang perasaanku terhadap Sinan. Tapi sampai sekarang aku belum pernah mencoba menghubunginya. Aku takut. Takut tidak dibalas, atau dibalas tapi dengan kata-kata yang menyakitkan.

"Felix mana?" tanya Kak Laura.

"Udah pulang dari tadi, Kak."

"Kenapa gak minta dianterin pulang sama dia?"

"Aku kan gak tau kalau Ibu bakalan lama ngejemputnya."

"Oh. Ya udah, aku duluan ya. Aku banyak tugas nih, maaf gak bisa nemenin."

"Iya, Kak, gak apa-apa."

Kak Laura pergi. Arah rumahku dan rumahnya berbeda. Sebenarnya aku bisa saja naik angkutan umum, tapi masalahnya kalau dijemput Ibu kan bisa ngirit ongkos. Jadi uang ongkosnya bisa aku tabung untuk membeli kado ulang tahunnya Sinan.

Duapuluh menit berselang, Ibuku baru datang. Katanya dia ada urusan mendadak bersama teman arisannya. Ya sudah tidak apa-apa. Lagipula tadi aku ditemani mengobrol oleh Om Ian, satpam disekolahku. Dan kami membicarakan tentang sepak bola.

"Om aku duluan ya. Dadah, Om."

"Yoi!"

Saat aku akan naik keatas motor Ibuku, aku melihat Sinan yang akan keluar gerbang dengan motornya. Oh, latihannya sudah selesai ternyata. Dan ia terlihat sedang mengobrol dengan Om Ian. Lalu dia memandangku sebentar. Dan mendadak aku menyesal. Andai Ibuku telat menjemput dua menit saja. Mungkin aku bisa pulang bersama Sinan. Kebetulan Om Ian tau soal perasaanku kepada Sinan. Dia bisa beralih menjadi cupid.

"Alea, ayo naik!" ujar Ibuku. Ah sial, Sinan membuatku melamun. Aku tidak sanggup melewatkan sedetikpun ketampanannya.

­---Bersambung---
Part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar