Translate

Jumat, 21 Juli 2017

AF Team (3)

AF Team Chapter 3
Felix MyLifeSaver


Kejadian itu membuat tubuhku sedikit kacau.
Jujur saja aku merasa bodoh. Aku sudah di bohongi oleh Sinan, tapi tetap saja aku memandanginya dari kursi koridor ini. Felix ada disampingku. Dia terus membujukku agar melupakan Sinan. Tapi jika hati ini memaksa untuk tetap berjuang demi mendapatkan hati Sinan, aku bisa apa?


"Le, aku itu kasihan sama kamu. Masih banyak laki-laki yang lebih baik, ganteng, bahkan lebih terkenal daripada Sinan. Ayolah, jangan terus menyiksa hati kamu seperti ini." katanya dengan serius.

Aku menyadari bahwa Felix menatapku tetapi aku malah menatap Sinan. Miris? Tentu saja.

"Inget gak aku pernah memposting sebuah quote di twitter? Lalu kamu retweet dan di favoritkan?" Dia melanjutkan. "Pilihlah orang yang mencintai kamu, bukan yang kamu cintai. Karena orang yang mencintai kamu akan lebih bisa menerima kamu apa adanya."

Aku masih terdiam dan kini tertunduk. Aku juga tidak ingin terus menyiksa hatiku sendiri. Tapi kalau sudah menyangkut cinta, lagi-lagi aku bisa apa? Hatiku terus berkata bahwa Sinan bisa aku taklukan asal aku tidak menyerah. Kejadian dua hari yang lalu di depan sekolah itu seolah-olah sebagai pelajaran bahwa cinta juga butuh perjuangan.

Seperti kata JKT48 di lagu Shonichi.
USAHA KERAS ITU TAK AKAN MENGHIANATI.
Aku percaya bahwa semua usahaku akan terbalaskan, meski persentasenya mungkin sangat kecil.

"Le, buka mata dan hati kamu. Banyak laki-laki yang jauh lebih bisa nerima kamu apa adanya. Aku bukan sok menggurui atau mengatur kamu, tapi untuk orang seperti Sinan, aku tidak yakin jika dia itu pria baik-baik," kata Felix lagi.

Aku tidak menjawab dan memilih pergi. Jujur saja aku tidak kuat mendengar perkataan Felix. Aku marah, aku tidak suka dia menjelek-jelekkan Sinan, tapi aku juga tidak bisa meluapkan amarahku kepada Felix.

Akhirnya aku masuk kedalam kelas Kak Laura dan menangis di pelukkannya.

"Maksudnya Felix itu mungkin baik. Kalau kamu gak suka, abaikan aja. Di rumah juga dia suka tiba-tiba jadi bijak dan nyeramahin aku. Padahal kan dia Adik." Kak Laura mengelus punggungku.

"Aku gak tahu, Kak. Aku gak suka kalau Felix ngejelek-jelekin Sinan, tapi aku juga gak bisa marah sama Felix."

Kak Laura melepas pelukkanku dan lantas menyeka air mataku. "Jujur, aku juga gak suka melihat kamu kayak gini. Biasanya kamu datang kesini dengan heboh, ini pertama kalinya aku melihat kamu menangis cuma gara-gara laki-laki."

"Jadi aku harus gimana, Kak?"

"Ikuti kata hatimu. Aku gak bilang Felix itu benar, tapi seenggaknya kamu buka hati kamu untuk laki-laki lain."

Aku hanya mengangguk lemas.
"Sudah jangan menangis, ah, jelek tau! Kamu nangis itu udah kayak anak TK yang gak dibeliin es krim sama Ibunya."

Menyebalkan! Di saat-saat seperti ini, masih saja bercanda.


***

Saat dikelas, kami saling diam.
Di saat-saat tidak ada guru seperti ini, biasanya Felix menjahiliku atau mengajakku mengobrol. Terkadang kami juga bermain COC bersama. Tapi kali ini itu tidak terjadi. Felix sibuk bersama teman-teman lelakinya sedangkan aku hanya memainkan ponsel dengan miris.

Sudah dibuat broken oleh Sinan, kini aku dibuat broken lagi oleh Erik Durm. Foto wanita yang disinyalir menjadi kekasihnya beredar luas di sosial media. Dan bodohnya lagi, aku terus mencari-cari informasi tentang hal itu. Video interview Erik Durm tentang pengakuannya sudah aku tonton berkali-kali.

Rasanya aku ini gadis enambelas tahun yang paling menyedihkan di dunia.

Tiga jam pelajaran ini benar-benar tidak ada guru. Katanya beliau ada urusan mendadak dan tidak memberi tugas. Di kelas ini aku memiliki dua teman dekat, tapi mereka sedang tidak bersekolah. Sungguh nasibku ini malang sekali. Ditambah Felix yang sepertinya ngambek padaku.

Aku berjalan keluar kelas dan tujuanku pasti kelas Kak Laura. Aku mengintip dari celah jendela yang paling belakang. Terlihat guru sedang menjelaskan pelajaran Fisika. Aku juga bisa melihat Sinan yang cukup serius memperhatikan guru itu.
Semakin aku memandang Sinan meski hanya punggungnya karena ia duduk dipaling depan, semakin aku tidak bisa melupakannya. Jarang-jarang ada anak laki-laki yang mau duduk di depan ketika pelajaran Fisika. Aku semakin kagum. Sepertinya Sinan tidak hanya pintar mengolah bola, tetapi pintar juga dalam pelajaran.

Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kelas Kak Laura. Kakiku melangkah ke dalam perpustakaan. Ada Om Ian yang menjaga. Dia memang satpam disini, tetapi terkadang merangkap jabatan sebagai penjaga perpustakaan. Lalu aku menceritakan semuanya, kebetulan perpustakaan ini hanya ada dia dan aku.

"Ah saya juga gak begitu yakin kalau Sinan itu anak baik-baik."

Aku mengeluh. "Felix juga bilang kalau Sinan bukan laki-laki yang baik."

"Nah mending kamu sama Felix aja. Dari kaca mata seorang Om Ian, sepertinya dia suka sama kamu. Apalagi dia baik dan suka belain kamu. Coba deh kamu pikirin kenapa dia bisa tahu kalau Sinan sedang bersama wanita lain di mall, terus kenapa juga dia bisa tau kalau kamu masih nunggu Sinan didepan sekolah? Kalau bukan cinta, mana bisa Felix seperti itu."

Hei, pertanyaan macam apa itu? Rasanya lebih sulit dari menjawab soal-soal Matematika.

"Tapi, Om, Felix pernah bilang kalau dia suka sama kakak kelas."

"Kamu ini anak IPA tapi kenapa masih gak mengerti dengan hal semacam itu?"
Aku hanya memandang Om Ian sambil nyengir bodoh.

"Gini ya, kemungkinan besar Felix ngomong gitu hanya untuk mengetes apa kamu cemburu, biasa aja, atau bagaimana. Pasti dia minta pendapat kamu soal kakak kelas itu, kan?"

Aku mengangguk.

"Nah dari situ Felix bermaksud untuk menilai diri kamu. Saya yakin kamu juga punya perasaan sama si Felix."

"Ih, kenapa Om bisa langsung menyimpulkan seperti itu?"

"Gini-gini saya itu titisannya Ki Joko Bodo. Saya bisa baca pikiran kamu."

"Ah Om mah suka sok tau!"

"Eh, coba tanya sama hati kamu sendiri. Pasti ada walaupun cuma satu persen."

Aku tidak menanggapi.

Mataku tidak sengaja menangkap koran yang tergeletak di meja yang tidak jauh dari keberadaanku. Saat dibuka, di halaman tengahnya ada berita tentang kemenangan Jerman atas Georgia. Oh, koran ini sudah sedikit lama, tapi aku baru melihatnya.

"Om, lihat ini suami tua aku di Dortmund." aku menunjuk gambar Marco Reus yang ada di koran.
"Suami tua?"

"Iya. Suami mudanya Erik Durm."

"Si Durem mah udah punya pacar. Cantik, bohay,"

"Om!" aku memukul lengannya tanpa sadar. "Jangan bikin aku tambah broken!!!"

Om Ian tetawa puas. Meski disini juga aku jadi bulan-bulanannya Om Ian, tapi setidaknya aku bisa tertawa. Benar-benar bulan ini adalah bulan terburuk. Huh.

Beberapa saat kemudian....

Tubuhku menegang. Dan aku berpura-pura tidak tau. Saat ini aku masih berada di perpustakaan sambil mengobrol dengan Om Ian.

Tiba-tiba gerombolan anak satu kelasnya Kak Laura datang dan mengatakan akan belajar di perpustakaan. Oh katanya ini pelajaran Bahasa Indonesia. Dan disana ada Sinan. Kak Laura membisikkan bahwa ia satu kelompok dengan My Prince Echte Liebe-ku itu. Sungguh aku tidak bisa berkata apapun.

"Sudah kamu di sini saja. Itu ada koran tahun 2013 yang belum kamu acak-acak," kata Om Ian.

Aku memang suka mengacak-ngacak koran di sini. Apalagi di halaman tengahnya terkadang ada artikel tentang Mesut Ozil, Arsenal, Dortmund, ataupun Jerman nasional tim. Dan itu pasti aku ambil untuk koleksi di rumah. Tidak bermodal ya.

"Alea, bantuin Kakak dong sini!" teriak Kak Laura saat aku sedang khusuk mengacak-ngacak koran 2013 itu.

"Bantuin apa, Kak?"

"Bikinin cerpen tentang cinta!"

Aku tidak menjawab dan kembali ke pekerjaanku sebelumnya, mengacak-ngacak koran.

"Le, ih, tolong dong!" teriak Kak Laura lagi.

"Ambil di wattpad aku aja, Kak." aku menyahut tanpa memandang Kak Laura.

"Gak mau. Maunya bikin yang sekarang!"

"Kakak kan bisa bikin cerpen juga."

"Dek, ih!"

Dan aku langsung terlonjak ketika Kak Laura sudah ada disampingku. Huh, kakak yang satu ini memaksa sekali.

"Dek, ini kesempatan buat deketin Sinan. Pasti dia tersepona melihat kamu yang bisa membuat cerpen dengan waktu singkat," bisik Kak Laura. Dan bisikkan itu sukses membuatku mau menuruti keinginannya.

Aku langsung diberi tempat duduk oleh teman-teman sekelompok Kak Laura. Kemudian Kak Laura memberikan aku kertas dan pulpen berwarna pink. Dia tahu saja jika aku menyukai warna pink dan mood-ku pasti naik kalau sudah berhubungan dengan apapun yang berwarna pink.

"Lebih baik tidak meminta bantuan orang lain jika masih bisa mengerjakannya sendiri," ujar Sinan dengan ketus. Lalu tangannya meletakkan kertas di tengah-tengah meja. "Ini tinggal di salin ulang."

Tau gak? Ini tuh lebih sakit dari mengetahui kalau Erik Durm sudah punya kekasih dan tidak dimasukkan kedalam squad terbarunya Pakde Jogi. Dan ini lebih menyakitkan dari kejadian Sabtu kemarin saat aku diberi harapan palsu oleh Sinan.

Ya Tuhan, sebenarnya aku ini salah apa? Aku tidak pernah mengganggu dia. Selama ini, untuk memandanginya saja dari kejauhan. Lalu kenapa dia seperti benci sekali padaku.

"Kalau kamu lagi bikin kenapa gak bilang?" tanya Kak Laura.

"Seharusnya kamu sendiri yang peka. Apa kamu gak bisa lihat kalau dari tadi aku sedang menulis? Dan teman-teman disampingku ini membisikkan nama-nama untuk pemerannya," sahut Sinan dan itu sukses membuatku meninggalkan perpustakaan dengan cepat.

Aku kembali ke dalam kelas dan menangis. Tidak ada yang memperdulikanku. Felix juga sedang khusyuk bermain catur di pojok kelas bersama Niklas Dorsch.

Oh, ini hari yang sangat menyedihkan bagiku.


---Bersambung---
Part 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar