Jujur saja
aku merasa bodoh. Aku sudah di bohongi oleh Sinan, tapi tetap saja aku
memandanginya dari kursi koridor ini. Felix ada disampingku. Dia terus
membujukku agar melupakan Sinan. Tapi jika hati ini memaksa untuk tetap
berjuang demi mendapatkan hati Sinan, aku bisa apa?
"Le, aku
itu kasihan sama kamu. Masih banyak laki-laki yang lebih baik, ganteng, bahkan
lebih terkenal daripada Sinan. Ayolah, jangan terus menyiksa hati kamu seperti
ini." katanya dengan serius.
Aku menyadari
bahwa Felix menatapku tetapi aku malah menatap Sinan. Miris? Tentu saja.
"Inget
gak aku pernah memposting sebuah quote
di twitter? Lalu kamu retweet dan di
favoritkan?" Dia melanjutkan. "Pilihlah orang yang mencintai kamu,
bukan yang kamu cintai. Karena orang yang mencintai kamu akan lebih bisa
menerima kamu apa adanya."
Aku masih
terdiam dan kini tertunduk. Aku juga tidak ingin terus menyiksa hatiku sendiri.
Tapi kalau sudah menyangkut cinta, lagi-lagi aku bisa apa? Hatiku terus berkata
bahwa Sinan bisa aku taklukan asal aku tidak menyerah. Kejadian dua hari yang
lalu di depan sekolah itu seolah-olah sebagai pelajaran bahwa cinta juga butuh
perjuangan.
Seperti kata
JKT48 di lagu Shonichi.
USAHA
KERAS ITU TAK AKAN MENGHIANATI.
Aku percaya
bahwa semua usahaku akan terbalaskan, meski persentasenya mungkin sangat kecil.
"Le,
buka mata dan hati kamu. Banyak laki-laki yang jauh lebih bisa nerima kamu apa
adanya. Aku bukan sok menggurui atau mengatur kamu, tapi untuk orang seperti
Sinan, aku tidak yakin jika dia itu pria baik-baik," kata Felix lagi.
Aku tidak
menjawab dan memilih pergi. Jujur saja aku tidak kuat mendengar perkataan
Felix. Aku marah, aku tidak suka dia menjelek-jelekkan Sinan, tapi aku juga
tidak bisa meluapkan amarahku kepada Felix.
Akhirnya aku
masuk kedalam kelas Kak Laura dan menangis di pelukkannya.
"Maksudnya
Felix itu mungkin baik. Kalau kamu gak suka, abaikan aja. Di rumah juga dia
suka tiba-tiba jadi bijak dan nyeramahin aku. Padahal kan dia Adik." Kak
Laura mengelus punggungku.
"Aku gak
tahu, Kak. Aku gak suka kalau Felix ngejelek-jelekin Sinan, tapi aku juga gak
bisa marah sama Felix."
Kak Laura
melepas pelukkanku dan lantas menyeka air mataku. "Jujur, aku juga gak
suka melihat kamu kayak gini. Biasanya kamu datang kesini dengan heboh, ini
pertama kalinya aku melihat kamu menangis cuma gara-gara laki-laki."
"Jadi
aku harus gimana, Kak?"
"Ikuti
kata hatimu. Aku gak bilang Felix itu benar, tapi seenggaknya kamu buka hati
kamu untuk laki-laki lain."
Aku hanya
mengangguk lemas.
"Sudah
jangan menangis, ah, jelek tau! Kamu nangis itu udah kayak anak TK yang gak
dibeliin es krim sama Ibunya."
Menyebalkan!
Di saat-saat seperti ini, masih saja bercanda.
***
Saat dikelas, kami saling diam.
Di saat-saat
tidak ada guru seperti ini, biasanya Felix menjahiliku atau mengajakku
mengobrol. Terkadang kami juga bermain COC bersama. Tapi kali ini itu tidak
terjadi. Felix sibuk bersama teman-teman lelakinya sedangkan aku hanya
memainkan ponsel dengan miris.
Sudah dibuat broken
oleh Sinan, kini aku dibuat broken lagi oleh Erik Durm. Foto wanita yang
disinyalir menjadi kekasihnya beredar luas di sosial media. Dan bodohnya lagi,
aku terus mencari-cari informasi tentang hal itu. Video interview Erik Durm tentang pengakuannya sudah aku tonton
berkali-kali.
Rasanya aku
ini gadis enambelas tahun yang paling menyedihkan di dunia.
Tiga jam
pelajaran ini benar-benar tidak ada guru. Katanya beliau ada urusan mendadak
dan tidak memberi tugas. Di kelas ini aku memiliki dua teman dekat, tapi mereka
sedang tidak bersekolah. Sungguh nasibku ini malang sekali. Ditambah Felix yang
sepertinya ngambek padaku.
Aku berjalan
keluar kelas dan tujuanku pasti kelas Kak Laura. Aku mengintip dari celah
jendela yang paling belakang. Terlihat guru sedang menjelaskan pelajaran
Fisika. Aku juga bisa melihat Sinan yang cukup serius memperhatikan guru itu.
Semakin aku
memandang Sinan meski hanya punggungnya karena ia duduk dipaling depan, semakin
aku tidak bisa melupakannya. Jarang-jarang ada anak laki-laki yang mau duduk di
depan ketika pelajaran Fisika. Aku semakin kagum. Sepertinya Sinan tidak hanya
pintar mengolah bola, tetapi pintar juga dalam pelajaran.
Akhirnya aku
memutuskan untuk meninggalkan kelas Kak Laura. Kakiku melangkah ke dalam
perpustakaan. Ada Om Ian yang menjaga. Dia memang satpam disini, tetapi
terkadang merangkap jabatan sebagai penjaga perpustakaan. Lalu aku menceritakan
semuanya, kebetulan perpustakaan ini hanya ada dia dan aku.
"Ah saya
juga gak begitu yakin kalau Sinan itu anak baik-baik."
Aku mengeluh.
"Felix juga bilang kalau Sinan bukan laki-laki yang baik."
"Nah
mending kamu sama Felix aja. Dari kaca mata seorang Om Ian, sepertinya dia suka
sama kamu. Apalagi dia baik dan suka belain kamu. Coba deh kamu pikirin kenapa
dia bisa tahu kalau Sinan sedang bersama wanita lain di mall, terus kenapa juga
dia bisa tau kalau kamu masih nunggu Sinan didepan sekolah? Kalau bukan cinta,
mana bisa Felix seperti itu."
Hei,
pertanyaan macam apa itu? Rasanya lebih sulit dari menjawab soal-soal
Matematika.
"Tapi,
Om, Felix pernah bilang kalau dia suka sama kakak kelas."
"Kamu
ini anak IPA tapi kenapa masih gak mengerti dengan hal semacam itu?"
Aku hanya
memandang Om Ian sambil nyengir bodoh.
"Gini
ya, kemungkinan besar Felix ngomong gitu hanya untuk mengetes apa kamu cemburu,
biasa aja, atau bagaimana. Pasti dia minta pendapat kamu soal kakak kelas itu,
kan?"
Aku
mengangguk.
"Nah
dari situ Felix bermaksud untuk menilai diri kamu. Saya yakin kamu juga punya
perasaan sama si Felix."
"Ih,
kenapa Om bisa langsung menyimpulkan seperti itu?"
"Gini-gini
saya itu titisannya Ki Joko Bodo. Saya bisa baca pikiran kamu."
"Ah Om
mah suka sok tau!"
"Eh,
coba tanya sama hati kamu sendiri. Pasti ada walaupun cuma satu persen."
Aku tidak
menanggapi.
Mataku tidak
sengaja menangkap koran yang tergeletak di meja yang tidak jauh dari
keberadaanku. Saat dibuka, di halaman tengahnya ada berita tentang kemenangan
Jerman atas Georgia. Oh, koran ini sudah sedikit lama, tapi aku baru
melihatnya.
"Om,
lihat ini suami tua aku di Dortmund." aku menunjuk gambar Marco Reus yang
ada di koran.
"Suami
tua?"
"Iya.
Suami mudanya Erik Durm."
"Si
Durem mah udah punya pacar. Cantik, bohay,"
"Om!"
aku memukul lengannya tanpa sadar. "Jangan bikin aku tambah broken!!!"
Om Ian tetawa
puas. Meski disini juga aku jadi bulan-bulanannya Om Ian, tapi setidaknya aku
bisa tertawa. Benar-benar bulan ini adalah bulan terburuk. Huh.
Beberapa saat kemudian....
Tubuhku
menegang. Dan aku berpura-pura tidak tau. Saat ini aku masih berada di
perpustakaan sambil mengobrol dengan Om Ian.
Tiba-tiba
gerombolan anak satu kelasnya Kak Laura datang dan mengatakan akan belajar di
perpustakaan. Oh katanya ini pelajaran Bahasa Indonesia. Dan disana ada Sinan.
Kak Laura membisikkan bahwa ia satu kelompok dengan My Prince Echte Liebe-ku
itu. Sungguh aku tidak bisa berkata apapun.
"Sudah
kamu di sini saja. Itu ada koran tahun 2013 yang belum kamu acak-acak,"
kata Om Ian.
Aku memang
suka mengacak-ngacak koran di sini. Apalagi di halaman tengahnya terkadang ada
artikel tentang Mesut Ozil, Arsenal, Dortmund, ataupun Jerman nasional tim. Dan
itu pasti aku ambil untuk koleksi di rumah. Tidak bermodal ya.
"Alea,
bantuin Kakak dong sini!" teriak Kak Laura saat aku sedang khusuk
mengacak-ngacak koran 2013 itu.
"Bantuin
apa, Kak?"
"Bikinin
cerpen tentang cinta!"
Aku tidak
menjawab dan kembali ke pekerjaanku sebelumnya, mengacak-ngacak koran.
"Le, ih,
tolong dong!" teriak Kak Laura lagi.
"Ambil
di wattpad aku aja, Kak." aku menyahut tanpa memandang Kak Laura.
"Gak
mau. Maunya bikin yang sekarang!"
"Kakak
kan bisa bikin cerpen juga."
"Dek,
ih!"
Dan aku
langsung terlonjak ketika Kak Laura sudah ada disampingku. Huh, kakak yang satu
ini memaksa sekali.
"Dek,
ini kesempatan buat deketin Sinan. Pasti dia tersepona melihat kamu yang bisa
membuat cerpen dengan waktu singkat," bisik Kak Laura. Dan bisikkan itu
sukses membuatku mau menuruti keinginannya.
Aku langsung
diberi tempat duduk oleh teman-teman sekelompok Kak Laura. Kemudian Kak Laura
memberikan aku kertas dan pulpen berwarna pink.
Dia tahu saja jika aku menyukai warna pink
dan mood-ku pasti naik kalau sudah
berhubungan dengan apapun yang berwarna pink.
"Lebih
baik tidak meminta bantuan orang lain jika masih bisa mengerjakannya sendiri,"
ujar Sinan dengan ketus. Lalu tangannya meletakkan kertas di tengah-tengah
meja. "Ini tinggal di salin ulang."
Tau gak? Ini
tuh lebih sakit dari mengetahui kalau Erik Durm sudah punya kekasih dan tidak
dimasukkan kedalam squad terbarunya
Pakde Jogi. Dan ini lebih menyakitkan dari kejadian Sabtu kemarin saat aku
diberi harapan palsu oleh Sinan.
Ya Tuhan,
sebenarnya aku ini salah apa? Aku tidak pernah mengganggu dia. Selama ini,
untuk memandanginya saja dari kejauhan. Lalu kenapa dia seperti benci sekali
padaku.
"Kalau
kamu lagi bikin kenapa gak bilang?" tanya Kak Laura.
"Seharusnya
kamu sendiri yang peka. Apa kamu gak bisa lihat kalau dari tadi aku sedang
menulis? Dan teman-teman disampingku ini membisikkan nama-nama untuk
pemerannya," sahut Sinan dan itu sukses membuatku meninggalkan
perpustakaan dengan cepat.
Aku kembali
ke dalam kelas dan menangis. Tidak ada yang memperdulikanku. Felix juga sedang
khusyuk bermain catur di pojok kelas bersama Niklas Dorsch.
Oh, ini hari
yang sangat menyedihkan bagiku.
---Bersambung---
Part 4
Part 4

Tidak ada komentar:
Posting Komentar