AF Team Chapter 2
![]() |
| My Prince Echte Liebe |
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada pula Erik Durm dalam squad terbarunya Pakde Jogi. Tiba-tiba ponsel ku berdering dan tertera pesan masuk dari Sinan. Tolong digaris bawahi orang yang mengirimkan pesan singkat kepadaku itu. Aku mendadak lemas. Waktu mandi pun mendadak ngaret sepuluh menit demi menunggu balasan dari Sinan.
From : My Prince
Echte Liebe Sinan
06.03
Jam istirahat pertama aku
tunggu di kantin.
To : My Prince Echte
Liebe Sinan
06.04
ada apa, kak?
Tidak ada balasan lagi.
Selagi sarapan,
aku berusaha menahan kegilaanku. Ini masih pagi, aku harus menyimpan energiku
untuk bertemu Sinan nanti. Takutnya jika aku tidak kuat aku akan mimisan dan
pingsan seketika.
Sebenarnya
ada apa ya dengan dia? Kenapa tiba-tiba mengajak aku bertemu di kantin? Apa Kak
Laura atau Om Ian sudah membocorkan semuanya kepada Sinan? Ah tidak apa-apa.
Semoga saja ini pertanda baik.
***
Semuanya gara-gara Sinan.
Aku tidak
fokus saat guru di kelasku menerangkan tentang Fluida Dinamis. Yang ada
dipikiranku hanya istirahat dan bertemu Sinan. Tidak peduli jika nanti
tiba-tiba diberi soal yang rumit. Cinta terkadang membuat orang buta. Tapi
dasar akunya juga sih yang tidak menyukai pelajaran Fisika. Lalu untuk apa ya
aku masuk kelas IPA?
Akhirnya
waktu yang dinanti pun tiba. Bel berdering cukup keras. Rasanya bagaikan es
kelapa muda di siang bolong. Biasanya guru Fisika itu tetap mengajar meskipun
bel sudah berbunyi. Telinganya memang kalah sensitif dari kami-kami dikelas.
Tapi memang itu bel tidak terlalu terdengar. Entah ada something wrong
atau dasar belnya saja yang tidak mau terdengar hingga kelasku.
Aku
meninggalkan kelas dengan cepat. Membiarkan alat tulisku masih berantakan di
meja. Sebelum ke kantin, aku mengintip ke lapangan sepak bola. Ternyata tidak
ada yang latihan. Dan cepat-cepat aku berlari ke kantin. Takutnya Sinan sudah
menunggu di sana.
"Buru-buru
amat. Amat aja gak buru-buru," keluh Felix yang tubuhnya tidak sengaja aku
senggol.
"Biarin."
aku menjulurkan lidah dan berjalan mendahului Felix. Lalu aku duduk di meja
nomor 4.
Lima belas
menit berselang, pangeranku baru datang. Aku memang sudah melihatnya saat ia
ada di ambang pintu kantin bersama dua temannya. Kemudian ia berpisah dengan
dua temannya dan akupun berpura-pura sibuk dengan ponsel.
"Sudah
lama?" tanyanya.
Oh tidak!!!
Aku tidak kuat mendengar suaranya. Aku yakin dia sukses membuatku insomnia
nanti malam.
"Sekitar
lima belas menitan. Tapi gak apa-apa." aku berusaha biasa saja.
Dia tersenyum
lalu beralih memanggil seorang pelayan dan memesan makanan. Ia juga memesankan
untukku. Yaitu ramen. Ya meskipun aku tidak terlalu menyukai ramen, tapi jika
yang memesankan adalah Sinan pasti aku terima.
"Jadi
kamu yang namanya Alea?"
Seketika aku
menatapnya dengan bibir yang masih menempel pada sedotan di gelas jus jeruk.
"Teman-temanku
banyak yang membicarakan kamu."
Kali ini aku
melepaskan sedotan itu dan mengelap sekitaran bibir. Satu hembusan nafas aku
keluarkan pelan. Oh, God... darah dalam tubuhku ini sudah berdesir
kencang.
"Apalagi
setiap hari kamu duduk di kursi koridor dekat lapangan sepak bola. Awalnya kami
semua biasa aja tapi lama-kelamaan kami merasa aneh. Sebenarnya apa yang kamu
lakukan?"
Skak!
Untunglah
pelayan tadi datang membawa pesanan Sinan. Setidaknya ia bisa mengalihkan Sinan
untuk beberapa detik.
"Kakak
tidak latihan?" tanyaku.
"Hari
ini libur. Banyak pemain yang mengeluh capek dan cidera."
"Tapi
kakak gak ngeluh kan? Capek dan cedera itu kan udah menjadi risiko pemain sepak
bola."
Sinan
menghela napas. "Kamu belum menjawab pertanyaanku."
Sial. Dia
masih ingat ternyata.
"Soal
itu... Aku cuma duduk-duduk aja. Kebetulan aku suka sepak bola jadi sekalian
nonton yang lagi berlatih atau bermain secara gratis."
Sinan tidak
menanggapi. Dan kami saling diam hingga akhirnya ramen milik Sinan habis dan ia
menatap kearahku.
"Aku
tunggu di depan sekolah ini jam empat sore nanti."
"Ada
apa, Kak?"
"Kita
jalan."
Setelah
mengatakan itu dia berlalu.
Aku terdiam,
mencerna perkataan Sinan barusan. Dan beberapa detik kemudian aku
tersenyum-senyum sendiri sambil menghabiskan ramen. Ketika hendak membayar,
ternyata sudah dibayarkan oleh Sinan. Oh betapa bahagianya aku kali ini.
Mungkin ini adalah buah dari kesabaranku.
Sepeninggal
Sinan, Felix datang sambil membawa semangkuk ramen juga. Dia duduk di kursi
dihadapanku, dimana kursi itu yang tadi diduduki oleh Sinan. Padahal aku hendak
pergi, tapi karena kedatangan anak itu akupun mengurungkannya. Lagipula
anak-anak sepak bola sedang libur.
"Ciee yang
tadi makan bareng sama Sinan," sindir Felix.
"Emang
kenapa? Kamu cemburu?"
"Eh,
kalian ngomongin apa aja?"
"Kepo!"
"Ih, apa
kamu gak kasihan sama penyakit kepo yang menyerang tubuhku ini? Kalau kamu gak
kasih tau, aku bisa sakau loh!"
"Dia
ngajak aku jalan nanti sore."
"Oh
ya?" Felix menggebrak meja seenaknya. Senang sih senang tapi tidak usah
sampai membuatku jantungan bisa kali. "Dia yang bakal jemput kamu? Atau
ketemuan?"
"Dia
nyuruh aku nunggu di depan sekolah ini jam empat sore nanti," jawabku malas.
"Udah ah aku mau main ke kelas Kak Laura."
"Mau
ketemu Kak Laura atau modusin Sinan?"
"Dua-duanya."
aku tertawa.
Aku langsung
menuju ruang kelas Kak Laura. Ketika aku datang, Kak Laura sedang sendirian
memainkan ponselnya sambil cekikikan. Aku juga tidak menemukan Sinan disini.
Kemudian aku duduk di depan Kak Laila.
"Lagi
ngapain, Kak?"
Dia
terlonjak. "Eh? Ini lagi lihat-lihat foto junior di Hoffenheim."
"Oh, by
the way Sinan mana?" aku berbisik.
"Mungkin
di kantin," jawab kak Laila sambil kembali memainkan ponsel.
"Kakak
tau gak?"
"Engga."
"Ih aku
belum selesai! Tadi pagi Sinan sms aku buat ketemuan di kantin. Terus dia
ngajak aku jalan nanti sore," kataku dengan suara pelan.
"APA?
DIA NGAJAK KAMU JALAN NANTI SORE?" teriak Kak Laura dengan histeris.
"Oh My God, kamu beruntung sekali, Dek!"
"Kakak, jangan
keras-keras!" protesku.
Aku mengedar
kesekeliling dan mendapati semua yang ada di kelas ini menatap ke arah aku dan
Kak Laura. Huh, ini semua akibat Kakaknya Felix ini. Ternyata Kakak sama Adik
sama saja. Sama-sama senang membuat aku malu.
"Kalau
gitu nanti aku ke rumah kamu ya, aku yang bakalan dandanin kamu." Kak
Laura terlihat sangat antusias.
"Oke
deh. Lagian sore ini Ibuku ada arisan."
"Nanti
aku datang jam tiga ya. Pokoknya aku yang akan dandanin kamu secantik
mungkin." Kak Laura terkekeh sangat.
"Iya,
tapi jangan menor ya."
"Tenang
aja, gini-gini aku itu ahlinya make up."
"Iya aja
deh. Ya udah aku balik ke kelas ya, Kak."
Kak Laura
mengangguk.
***
Seperti
janjinya tadi, Kak Laura datang tepat pukul tiga sore. Kebetulan hari ini kami
pulang cepat karena hari Sabtu.
Dia datang
dengan membawa sebuah koper kecil yang ketika dibuka isinya peralatan make up. Isinya lengkap sekali. Aku
tidak menyangka jika dia memiliki peralatan make up sebanyak ini. Aku saja
hanya memiliki bedak dan lipgloss.
"Ini aku
pinjam dari tetanggaku yang buka rias pengantin," ujarnya sambil
membubuhkan foundation diwajahku. Dan seketika aku tertawa. Aku kira ini
benar-benar miliknya.
"Hus,
jangan ketawa!" katanya dengan galak. "Nanti berantakan."
Setengah jam
berlalu dan aku sudah hampir selesai. Terakhir, Kak Laura menambahkan kalung di
leherku. Dia yang memilihkan gaun pink
ini dari lemariku. Lalu sepatunya juga ia yang memilih. Sungguh aku merasa
sangat terbantu dengan adanya Kak Laura.
Saat
bercermin, aku merasa cantik sekali. Rambutku yang biasanya hanya diurai tanpa
aksesoris apapun, kini ditambahkan pita kecil dibagian sisi kiri.
Oh aku sangat
siap untuk bertemu My Prince Echte Liebe Sinan
.
"Udah,
Dek. Asli cantik. Pasti Sinan langsung terpukau."
"Ini kan
berkat Kakak. Gratis kan ya?"
Kak Laura
mendecak. "Tuh kan gini-gini aku jago dalam hal dandan-mendandani."
"Iya
deh. Makasih ya, Kak."
Kak Laura
mengangguk. "Ayo aku antar, aku bawa motor."
"Aku
naik taksi aja."
"Sombong
amat naik taksi. Biasanya juga naik angkot." Kak Laura tertawa.
"Hei,
ini demi Sinan, Kak. Aku gak mau dandananku ini hancur berantakan."
Aku pergi ke
depan sekolah seorang diri. Di depan sekolah memang ada sebuah pohon rindang
yang pas untuk aku menunggu Sinan. Berasa aktris di film-film Jepang yang
menunggu kekasihnya di bawah pohon Sakura. Pintu gerbang sekolah sudah di
kunci. Memang dihari Sabtu seperti ini kegiatan hanya sampai pukul duabelas
siang saja.
Ini sudah jam
empat lewat lima menit. Tidak apa, lagipula aku juga baru datang beberapa detik
yang lalu. Lebih baik aku yang menunggu dia daripada sebaliknya. Tapi hingga
waktu hampir menunjukkan pukul lima, dia belum kunjung datang. Jujur saja kaki ku
sudah pegal karena sejak tadi aku berdiri.
Lokasi
sekolah ini sedikit jauh dari keramaian. Jika menaiki angkutan umum, maka akan
diturunkan di halte depan yang untuk mencapai ke bangunan sekolahnya menempuh
sekitar duapuluh meter. Memang sih tidak terlalu sepi, sesekali ada orang dan
kendaraan roda dua yang lalu-lalang. Tapi aku takut, semoga saja mereka orang
baik yang tidak akan melakukan begal.
Dan suasana
berubah mencekam. Langit mulai kehitaman dan air pun mulai jatuh. Tidak ada
yang aku lakukan karena tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berteduh.
Setidaknya aku tidak terlalu kehujanan karena sedikit terhalang oleh pohon
rindang ini.
Tapi lama
kelamaan hujan semakin deras. Aku menjadi basah kuyub. Tidak ada satu orangpun
yang melintas, dan yang lebih parahnya lagi Sinan belum juga datang. Aku hanya
terdiam sambil melipat kedua tanganku di dada. Bibirku mulai bergetar.
Sebenarnya
aku bisa saja menelpon Sinan dan meminta kebenaran apakah ia akan datang atau
tidak, tapi masalahnya aku malu. Ini sungguh membingungkan. Aku sudah
kedinginan tapi hatiku menyuruh untuk tetap menunggu pangeranku itu.
Mungkin ini
yang dinamakan keajaiban atau mukjizat. Tiba-tiba aku tidak lagi merasakan air
hujan. Ketika aku menoleh, ternyata ada seseorang yang memayungiku.
"Kamu
ngapain hujan-hujanan?" tanyanya.
"Aku
nunggu Sinan."
"Kamu
kenapa bodoh banget sih? Sinan gak akan datang! Tadi aku lihat dia di mall bersama seorang wanita,"
Aku menangis,
tapi aku yakin tidak akan terlihat karena bercampur dengan air hujan yang masih
membasahi wajahku.
"Ayo
pulang. Nanti kamu sakit!"
Aku
mengangguk lemas. Kemudian ia membawaku kedalam mobilnya. Aku diberikan jaket
agar tubuhku sedikit hangat.
"Jujur
aja aku gak nyangka kalau Sinan ternyata kayak gitu. Kalau aku tau sejak awal,
aku pasti melarang kamu kesini," katanya dengan penuh kekesalan.
"Udah
gak apa-apa. Mungkin dia lupa."
"Kamu
kenapa sepolos ini, Le?"
Aku tidak
menjawab lagi.
Sepanjang
jalan kami saling diam. Yang ada dipikiranku saat ini, kenapa Felix begitu
perhatian padaku? Aku tidak mengerti kenapa dia bisa memergoki Sinan di mall.
Dan kenapa dia bisa tahu kalau aku masih menunggu Sinan di depan sekolah?
---Bersambung---
Part 3
Part 3
Note :
My Prince Echte Liebe = Pangeran
Cinta Sejatiku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar