Translate

Senin, 17 Juli 2017

AF Team (2)

AF Team Chapter 2
My Prince Echte Liebe


Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada pula Erik Durm dalam squad terbarunya Pakde Jogi. Tiba-tiba ponsel ku berdering dan tertera pesan masuk dari Sinan. Tolong digaris bawahi orang yang mengirimkan pesan singkat kepadaku itu. Aku mendadak lemas. Waktu mandi pun mendadak ngaret sepuluh menit demi menunggu balasan dari Sinan.


From : My Prince Echte Liebe Sinan
06.03
Jam istirahat pertama aku tunggu di kantin.

To : My Prince Echte Liebe Sinan
06.04
ada apa, kak?

Tidak ada balasan lagi.
Selagi sarapan, aku berusaha menahan kegilaanku. Ini masih pagi, aku harus menyimpan energiku untuk bertemu Sinan nanti. Takutnya jika aku tidak kuat aku akan mimisan dan pingsan seketika.

Sebenarnya ada apa ya dengan dia? Kenapa tiba-tiba mengajak aku bertemu di kantin? Apa Kak Laura atau Om Ian sudah membocorkan semuanya kepada Sinan? Ah tidak apa-apa. Semoga saja ini pertanda baik.

***

Semuanya gara-gara Sinan.
Aku tidak fokus saat guru di kelasku menerangkan tentang Fluida Dinamis. Yang ada dipikiranku hanya istirahat dan bertemu Sinan. Tidak peduli jika nanti tiba-tiba diberi soal yang rumit. Cinta terkadang membuat orang buta. Tapi dasar akunya juga sih yang tidak menyukai pelajaran Fisika. Lalu untuk apa ya aku masuk kelas IPA?

Akhirnya waktu yang dinanti pun tiba. Bel berdering cukup keras. Rasanya bagaikan es kelapa muda di siang bolong. Biasanya guru Fisika itu tetap mengajar meskipun bel sudah berbunyi. Telinganya memang kalah sensitif dari kami-kami dikelas. Tapi memang itu bel tidak terlalu terdengar. Entah ada something wrong atau dasar belnya saja yang tidak mau terdengar hingga kelasku.

Aku meninggalkan kelas dengan cepat. Membiarkan alat tulisku masih berantakan di meja. Sebelum ke kantin, aku mengintip ke lapangan sepak bola. Ternyata tidak ada yang latihan. Dan cepat-cepat aku berlari ke kantin. Takutnya Sinan sudah menunggu di sana.

"Buru-buru amat. Amat aja gak buru-buru," keluh Felix yang tubuhnya tidak sengaja aku senggol.

"Biarin." aku menjulurkan lidah dan berjalan mendahului Felix. Lalu aku duduk di meja nomor 4.

Lima belas menit berselang, pangeranku baru datang. Aku memang sudah melihatnya saat ia ada di ambang pintu kantin bersama dua temannya. Kemudian ia berpisah dengan dua temannya dan akupun berpura-pura sibuk dengan ponsel.

"Sudah lama?" tanyanya.

Oh tidak!!! Aku tidak kuat mendengar suaranya. Aku yakin dia sukses membuatku insomnia nanti malam.

"Sekitar lima belas menitan. Tapi gak apa-apa." aku berusaha biasa saja.

Dia tersenyum lalu beralih memanggil seorang pelayan dan memesan makanan. Ia juga memesankan untukku. Yaitu ramen. Ya meskipun aku tidak terlalu menyukai ramen, tapi jika yang memesankan adalah Sinan pasti aku terima.

"Jadi kamu yang namanya Alea?"

Seketika aku menatapnya dengan bibir yang masih menempel pada sedotan di gelas jus jeruk.

"Teman-temanku banyak yang membicarakan kamu."

Kali ini aku melepaskan sedotan itu dan mengelap sekitaran bibir. Satu hembusan nafas aku keluarkan pelan. Oh, God... darah dalam tubuhku ini sudah berdesir kencang.

"Apalagi setiap hari kamu duduk di kursi koridor dekat lapangan sepak bola. Awalnya kami semua biasa aja tapi lama-kelamaan kami merasa aneh. Sebenarnya apa yang kamu lakukan?"

Skak!

Untunglah pelayan tadi datang membawa pesanan Sinan. Setidaknya ia bisa mengalihkan Sinan untuk beberapa detik.

"Kakak tidak latihan?" tanyaku.

"Hari ini libur. Banyak pemain yang mengeluh capek dan cidera."

"Tapi kakak gak ngeluh kan? Capek dan cedera itu kan udah menjadi risiko pemain sepak bola."

Sinan menghela napas. "Kamu belum menjawab pertanyaanku."

Sial. Dia masih ingat ternyata.

"Soal itu... Aku cuma duduk-duduk aja. Kebetulan aku suka sepak bola jadi sekalian nonton yang lagi berlatih atau bermain secara gratis."

Sinan tidak menanggapi. Dan kami saling diam hingga akhirnya ramen milik Sinan habis dan ia menatap kearahku.

"Aku tunggu di depan sekolah ini jam empat sore nanti."

"Ada apa, Kak?"

"Kita jalan."

Setelah mengatakan itu dia berlalu.

Aku terdiam, mencerna perkataan Sinan barusan. Dan beberapa detik kemudian aku tersenyum-senyum sendiri sambil menghabiskan ramen. Ketika hendak membayar, ternyata sudah dibayarkan oleh Sinan. Oh betapa bahagianya aku kali ini. Mungkin ini adalah buah dari kesabaranku.

Sepeninggal Sinan, Felix datang sambil membawa semangkuk ramen juga. Dia duduk di kursi dihadapanku, dimana kursi itu yang tadi diduduki oleh Sinan. Padahal aku hendak pergi, tapi karena kedatangan anak itu akupun mengurungkannya. Lagipula anak-anak sepak bola sedang libur.

"Ciee yang tadi makan bareng sama Sinan," sindir Felix.

"Emang kenapa? Kamu cemburu?"

"Eh, kalian ngomongin apa aja?"

"Kepo!"

"Ih, apa kamu gak kasihan sama penyakit kepo yang menyerang tubuhku ini? Kalau kamu gak kasih tau, aku bisa sakau loh!"

"Dia ngajak aku jalan nanti sore."

"Oh ya?" Felix menggebrak meja seenaknya. Senang sih senang tapi tidak usah sampai membuatku jantungan bisa kali. "Dia yang bakal jemput kamu? Atau ketemuan?"

"Dia nyuruh aku nunggu di depan sekolah ini jam empat sore nanti," jawabku malas. "Udah ah aku mau main ke kelas Kak Laura."

"Mau ketemu Kak Laura atau modusin Sinan?"

"Dua-duanya." aku tertawa.

Aku langsung menuju ruang kelas Kak Laura. Ketika aku datang, Kak Laura sedang sendirian memainkan ponselnya sambil cekikikan. Aku juga tidak menemukan Sinan disini. Kemudian aku duduk di depan Kak Laila.

"Lagi ngapain, Kak?"

Dia terlonjak. "Eh? Ini lagi lihat-lihat foto junior di Hoffenheim."

"Oh, by the way Sinan mana?" aku berbisik.

"Mungkin di kantin," jawab kak Laila sambil kembali memainkan ponsel.

"Kakak tau gak?"

"Engga."
"Ih aku belum selesai! Tadi pagi Sinan sms aku buat ketemuan di kantin. Terus dia ngajak aku jalan nanti sore," kataku dengan suara pelan.

"APA? DIA NGAJAK KAMU JALAN NANTI SORE?" teriak Kak Laura dengan histeris. "Oh My God, kamu beruntung sekali, Dek!"
"Kakak, jangan keras-keras!" protesku.

Aku mengedar kesekeliling dan mendapati semua yang ada di kelas ini menatap ke arah aku dan Kak Laura. Huh, ini semua akibat Kakaknya Felix ini. Ternyata Kakak sama Adik sama saja. Sama-sama senang membuat aku malu.

"Kalau gitu nanti aku ke rumah kamu ya, aku yang bakalan dandanin kamu." Kak Laura terlihat sangat antusias.

"Oke deh. Lagian sore ini Ibuku ada arisan."

"Nanti aku datang jam tiga ya. Pokoknya aku yang akan dandanin kamu secantik mungkin." Kak Laura terkekeh sangat.

"Iya, tapi jangan menor ya."

"Tenang aja, gini-gini aku itu ahlinya make up."

"Iya aja deh. Ya udah aku balik ke kelas ya, Kak."

Kak Laura mengangguk.

***

Seperti janjinya tadi, Kak Laura datang tepat pukul tiga sore. Kebetulan hari ini kami pulang cepat karena hari Sabtu.

Dia datang dengan membawa sebuah koper kecil yang ketika dibuka isinya peralatan make up. Isinya lengkap sekali. Aku tidak menyangka jika dia memiliki peralatan make up sebanyak ini. Aku saja hanya memiliki bedak dan lipgloss.

"Ini aku pinjam dari tetanggaku yang buka rias pengantin," ujarnya sambil membubuhkan foundation diwajahku. Dan seketika aku tertawa. Aku kira ini benar-benar miliknya.

"Hus, jangan ketawa!" katanya dengan galak. "Nanti berantakan."

Setengah jam berlalu dan aku sudah hampir selesai. Terakhir, Kak Laura menambahkan kalung di leherku. Dia yang memilihkan gaun pink ini dari lemariku. Lalu sepatunya juga ia yang memilih. Sungguh aku merasa sangat terbantu dengan adanya Kak Laura.

Saat bercermin, aku merasa cantik sekali. Rambutku yang biasanya hanya diurai tanpa aksesoris apapun, kini ditambahkan pita kecil dibagian sisi kiri.

Oh aku sangat siap untuk bertemu My Prince Echte Liebe Sinan
.
"Udah, Dek. Asli cantik. Pasti Sinan langsung terpukau."

"Ini kan berkat Kakak. Gratis kan ya?"

Kak Laura mendecak. "Tuh kan gini-gini aku jago dalam hal dandan-mendandani."

"Iya deh. Makasih ya, Kak."

Kak Laura mengangguk. "Ayo aku antar, aku bawa motor."

"Aku naik taksi aja."

"Sombong amat naik taksi. Biasanya juga naik angkot." Kak Laura tertawa.

"Hei, ini demi Sinan, Kak. Aku gak mau dandananku ini hancur berantakan."

Aku pergi ke depan sekolah seorang diri. Di depan sekolah memang ada sebuah pohon rindang yang pas untuk aku menunggu Sinan. Berasa aktris di film-film Jepang yang menunggu kekasihnya di bawah pohon Sakura. Pintu gerbang sekolah sudah di kunci. Memang dihari Sabtu seperti ini kegiatan hanya sampai pukul duabelas siang saja.

Ini sudah jam empat lewat lima menit. Tidak apa, lagipula aku juga baru datang beberapa detik yang lalu. Lebih baik aku yang menunggu dia daripada sebaliknya. Tapi hingga waktu hampir menunjukkan pukul lima, dia belum kunjung datang. Jujur saja kaki ku sudah pegal karena sejak tadi aku berdiri.

Lokasi sekolah ini sedikit jauh dari keramaian. Jika menaiki angkutan umum, maka akan diturunkan di halte depan yang untuk mencapai ke bangunan sekolahnya menempuh sekitar duapuluh meter. Memang sih tidak terlalu sepi, sesekali ada orang dan kendaraan roda dua yang lalu-lalang. Tapi aku takut, semoga saja mereka orang baik yang tidak akan melakukan begal.

Dan suasana berubah mencekam. Langit mulai kehitaman dan air pun mulai jatuh. Tidak ada yang aku lakukan karena tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk berteduh. Setidaknya aku tidak terlalu kehujanan karena sedikit terhalang oleh pohon rindang ini.

Tapi lama kelamaan hujan semakin deras. Aku menjadi basah kuyub. Tidak ada satu orangpun yang melintas, dan yang lebih parahnya lagi Sinan belum juga datang. Aku hanya terdiam sambil melipat kedua tanganku di dada. Bibirku mulai bergetar.

Sebenarnya aku bisa saja menelpon Sinan dan meminta kebenaran apakah ia akan datang atau tidak, tapi masalahnya aku malu. Ini sungguh membingungkan. Aku sudah kedinginan tapi hatiku menyuruh untuk tetap menunggu pangeranku itu.

Mungkin ini yang dinamakan keajaiban atau mukjizat. Tiba-tiba aku tidak lagi merasakan air hujan. Ketika aku menoleh, ternyata ada seseorang yang memayungiku.

"Kamu ngapain hujan-hujanan?" tanyanya.

"Aku nunggu Sinan."

"Kamu kenapa bodoh banget sih? Sinan gak akan datang! Tadi aku lihat dia di mall bersama seorang wanita,"

Aku menangis, tapi aku yakin tidak akan terlihat karena bercampur dengan air hujan yang masih membasahi wajahku.

"Ayo pulang. Nanti kamu sakit!"

Aku mengangguk lemas. Kemudian ia membawaku kedalam mobilnya. Aku diberikan jaket agar tubuhku sedikit hangat.
"Jujur aja aku gak nyangka kalau Sinan ternyata kayak gitu. Kalau aku tau sejak awal, aku pasti melarang kamu kesini," katanya dengan penuh kekesalan.

"Udah gak apa-apa. Mungkin dia lupa."

"Kamu kenapa sepolos ini, Le?"

Aku tidak menjawab lagi.
Sepanjang jalan kami saling diam. Yang ada dipikiranku saat ini, kenapa Felix begitu perhatian padaku? Aku tidak mengerti kenapa dia bisa memergoki Sinan di mall. Dan kenapa dia bisa tahu kalau aku masih menunggu Sinan di depan sekolah?


---Bersambung---
Part 3



Note :
My Prince Echte Liebe = Pangeran Cinta Sejatiku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar