Tittle : Götzeus (friendship story about Mario Gotze and Marco Reus)
Story by : Ajeng Fadillah
Story by : Ajeng Fadillah
Length : Oneshoot
Genre : Friendship
Cast : Marco Reus, Mario Götze, and other...
Happy Reading...
Menjadi pemain sepak bola adalah impianku sejak kecil. Aku bersyukur
karena kedua orang tuaku sangat mendukung impianku itu. Mereka
menyekolahkanku disebuah akademi khusus saat aku baru berusia lima
tahun. Namaku Marco Reus. Aku lahir di salah satu distrik di Jerman,
yaitu Dortmund. Disini terkenal akan kedisiplinan dan kerja kerasnya
yang tinggi. Terkadang aku harus mendapat hukuman bila telat walau
hanya lima menit.
Saat ini, aku sudah berusia
duapuluh lima tahun. Tidak terasa umurku sudah menginjak seperempat abad
lebih. Aku telah pindah dari klub lamaku-Borussia Moncengladbach, tahun
2012-ke Borussia Dortmund. Di klub ini, aku bermain sebagai
midfielder. Dan di klub ini pula aku memiliki teman yang
posisinya sama denganku dan membuatku nyaman padanya.
Adalah Mario Götze. Dia tiga tahun lebih muda dariku. Dia sangat baik
walau terkadang usil. Awalnya aku dan dia biasa-biasa saja. Sampai
akhirnya kami selalu berdampingan baik dilapangan maupun diluar
lapangan. Seperti halnya saat di locker room, sebisa mungkin kami duduk
berdampingan meski jersey kita digantung berjauhan. Atau mungkin saat
berfoto bersama dalam starting-eleven, aku pasti ada disampingnya.
Sebelumnya, aku telah mengenalnya sejak kami sama-sama bermain untuk
tim nasional senior. Tetapi baru di Borussia Dortmund ini kami menjadi
dekat. Sampai-sampai para fans membuat julukan bagi kami yaitu
“Götzeus”, yang merupakan gabungan antara Götze dan Reus.
Tahun 2013, adalah satu tahunku di Borussia Dortmund. Aku senang
bercampur sedih. Mario harus pindah ke Bayern München. Aku ingin
melarangnya, tapi aku tak punya kewenangan. Bagaimanapun juga, itu hak
Mario untuk memilih. Lagipula dia juga yang menjalankannya.
Hari dimana ia berpamitan, dia berkata sembari memelukku “Kita akan selalu bersama, kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun.”
Meski telah berjauhan, kami tetap menjaga pertemanan ini. Biasanya kami
saling mengunjungi secara bergantian, terkadang aku yang mengunjunginya
di München, atau sebaliknya Mario yang mengunjungiku di Dortmund. Kami
juga sering menggunakan media sosial untuk saling menyapa. Atau selagi
tak ada jadwal berlatih, kami selalu menyempatkan diri untuk
bertemu-walaupun waktu libur kami sangat minim.
Di tahun 2014 ini, aku menjadi salah satu dari dua puluh tiga orang
yang dipanggil untuk piala dunia di Brazil. Aku sangat senang karena ini
tahun pertamaku untuk ajang empat tahunan itu. Satu minggu sebelum
acaranya berlangsung, tim kami melakukan pertandingan uji coba melawan
Armenia. Aku menjadi salah satu dari starting-elevennya. Akan tetapi
Mario tidak. Dia masih harus beristirahat hingga tiga hari mendatang.
Tanpa disangka tim kami menang besar. Tetapi itu tidak membuatku
senang. Aku justru sedih dan kecewa. Aku sempat oleng saat akan mengejar
bola. Kakiku tertekuk dan hamstringku langsung cedera. Aku berteriak
sekerasnya-rasanya sakit sekali. Aku bahkan tak tau jika Andre yang
membantuku untuk berjalan hingga pinggir lapangan. Selain Mario, aku
juga dekat dengannya.
Tim medis membalutkan
perban pada kaki kiriku. Aku divonis absen selama tiga bulan. Aku hanya
bisa pasrah. Aku harus mengubur mimpiku untuk acara empat tahunan itu.
Tak mungkin rasanya jika memaksakan. Jangankan berlari, bangkit tanpa
dibantupun rasanya sakit sekali.
Aku masih berbaring di bangsal ketika seorang staff memberikanku ponsel. Katanya ada pesan masuk dari Mario.
Bagaimana keadaanmu? Aku sangat khawatir. Andai aku ada disana. Aku pasti menjadi yang pertama menolongmu.
Aku sedikit tersenyum membacanya. Lalu aku membalas.
Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir..
Aku harap kebohonganku itu tidak membuat Mario marah. Aku hanya tak
ingin membuatnya khawatir. Cukup aku saja yang merasakan.
Pertandingan usai. Aku dibawa menuju locker room sembari dipapah.
Suasana yang tadinya ramai berubah menjadi hening begitu aku memasuki
locker room. Aku duduk pada bilikku yang tergantung jersey #21 Reus.
Satu persatu mendekat. Mereka langsung menanyakan keadaanku. Katanya
mereka sedih dan khawatir. Aku begitu tersentuh mendengarnya. Terkadang
aku merasa tidak dipedulikan oleh mereka. Tetapi itu semua salah.
“Mario langsung mengirimkan pesan pada kami semua hanya untuk
menanyakan keadaanmu.” Aku kaget bukan main saat Philipp-kapten tim-
mengatakan itu. Lalu Thomas menunjukkan pesan yang diterimanya dari
Mario, disusul oleh Jerome, kemudian yang lain-ternyata benar, mereka
mendapat pesan yang sama dari Mario.
“Aku tak apa. Jika kalian ingin membalas, katakan aku baik-baik saja.”
“Apa maksudmu dengan kata baik-baik saja?” Andre menatapku tajam. “kakimu di perban. Kalau tidak cedera, lalu apa lagi?”
Teman-temanku yang lain senada dengan Andre. Mereka tau aku berbohong.
Mereka kesal dan marah. Yang mereka inginkan aku terbuka dan jujur
tentang kondisiku.
“Justru kami akan sedih jika kamu tidak mau terbuka pada kami.” ujar Sami.
“Bagaimanapun juga kita ini tim, Marco. Kamu tidak pernah sendiri, kami
akan selalu ada untukmu. Apapun kondisimu.” Bastian menambahkan.
Aku tak sanggup berkata mendengar kepedulian teman-temanku. Tiba-tiba
pintu locker room terbuka, seorang pria yang mengenakan jaket cokelat
muncul. Semuanya tertuju pada orang itu. Termasuk aku. Dengan cepat
orang itu berada disampingku dan langsung memeluk. Rekan-rekan setimku
yang tadi mengerubungiku memilih meninggalkan kami berdua.
“Aku tidak percaya saat kamu mengatakan baik-baik saja. Aku melihat
dengan jelas bagaimana kamu berteriak kesakitan, kemudian kamu harus
dibantu saat berjalan.” Mario mengatakan itu dengan lirih sambil
memelukku dari samping.
“Maafkan aku.” aku hanya bisa mengatakan itu. Aku tak tahu bagaimana kecewanya Mario mendengar jawabanku.
Mario melepas pelukannya. “Tidak perlu minta maaf. Cukup katakan apa yang sebenarnya terjadi.”
Aku menghela napas sebelum menjawab. Rasanya berat. Entah kenapa aku
merasa seperti itu. Seakan-akan aku tak ingin membagi kesedihanku
padanya. “Aku...”
“Cepat katakan! Kamu menganggap aku apa? Kenapa kamu tidak mau jujur padaku?”
“Aku cedera.” kataku lantang hingga membuat seisi locker room kembali
hening. Aku tak tau seberapa keras suaraku saat mengatakan itu. “aku
cedera dan aku harus absen selama tiga bulan.” aku memperjelas.
Mario kembali memelukku. “Aku akan meneruskan mimpimu di piala dunia nanti. Aku janji.”
***
Aku termenung menatap layar tv saat Jerman akan bertanding melawan
Portugal. Aku tak begitu semangat. Aku masih belum bisa menerima cedera
ini. Tapi aku tak lupa memberikan pesan singkat untuk teman-temanku di
Brazil sana.
Terimakasih. Aku senang hari
ini dijadikan starting-eleven oleh Coach Jogi. Aku harap, kamu juga
senang ya. Ini semua untukmu..
*Dari seluruh pemain dan staff*
Aku tersenyum miris membaca balasan dari Mario. Tentu saja aku iri
melihat teman-temanku tersenyum ceria saat di lorong menuju lapangan,
kemudian melantunkan lagu kebangsaan dengan khidmat. Sekali lagi, aku
sangat iri! Andai saja aku tidak cedera, pasti aku ada disana dan
merasakan semua itu.
***
Hari-hari berlalu. Negaraku selalu menang, dan hanya sekali seri. Hingga
akhirnya Jerman menembus final bersama Argentina. Oh, tinggal selangkah
lagi untuk mengangkat trofi itu. Dan sekali lagi, aku tak ada. Aku
hanya bisa menyaksikannya di tv. Perasaanku semakin kalut saja. Tak tau
apakah harus senang atau sedih.
Kamu ingat
pada janjiku saat kamu cedera dulu? Aku berkata bahwa piala dunia ini
aku jalani untukmu, untuk mewujudkan mimpimu. Dan sekarang aku kembali
berjanji. Aku akan membawa trofi itu ke negara kita. Ingat itu, aku
janji.
Aku baru membacanya saat sore hari
dimana closing ceremony piala dunia sedang berlangsung-padahal pesan itu
dikirimkan Mario sejak pagi hari. Aku hanya membalas “Good Luck.”,
karena aku tak ada semangat untuk membahas itu.
Aku tak beranjak kemana-mana saat pertandingan itu berlangsung.
Beberapa camilan menemaniku. Saat lagu kebangsaan berkumandang, aku tak
melihat ada Mario disana. Tapi aku yakin Mario bermain, biasanya ia
menggantikan Miro.
Hingga babak pertama usai,
Mario belum juga muncul. Barulah didua menit terakhir babak kedua, ia
masuk menggantikan Miro. Pertandingan masih kacamata, mau tak mau harus
menambah 2x15 menit. Di 15 menit pertama, masih tak ada gol yang
tercipta. Aku semakin cemas, aku tidak ingin pertandingan ini berakhir
dengan penalti.
Tiba-tiba dimenit 113, Andre
menggiring bola dari samping. Sebelum pemain lawan merebut bolanya, ia
segera menendang kearah Mario. Mario yang hanya sendirian disana menahan
operan Andre dengan dada. Beberapa pemain lawan mencoba mendekatinya
dan berusaha merebut bola dari kaki Mario. Posisi Mario saat itu sangat
mengancam lawan. Dengan satu sepakan keras, Mario mampu membobol gawang
lawan.
Sampai akhir pertandingan, negaraku
tetap unggul. Lalu mereka bersorak, saling berpelukkan, bahkan ada yang
menangis bahagia. Aku dirumah hanya bisa tersenyum sambil bertepuk
tangan. Aku tak menyangka jika negaraku akan menang, yang lebih
membuatku tak menyangka adalah janji Mario. Mario benar-benar menepati
janjinya untuk membawa trofi piala dunia ke Jerman. Dan itu semua
berkatnya, berkat keberhasilannya mengeksekusi operan dari Andre.
Satu persatu pemain menaiki podium untuk menerima mendali dan trofi.
Ada satu objek yang membuatku penasaran. Sorotan kamera yang dari jauh
membuatku sulit mengetahui jersey siapa yang dibawa Mario saat itu. Saat
kamera mulai mendekati Mario, ternyata itu adalah jerseyku-jersey
bernomor punggung #21 dan bernama Reus. Mario bahkan terus membawa jerseyku
sampai selebrasi ditengah lapang.
Begitu siaran
piala dunia usai, aku membuka akun twitter dan facebook sekaligus. Aku
ingin mengucapkan selamat pada rekan-rekanku. Dari sosial media itu
pula aku mendapat banyak artikel yang memuat aksi Mario. Kebanyakan
tentang kehebatannya menjebol gawang lawan. Tetapi, saat ia membawa
jerseyku juga banyak yang memposting.
Selamat, aku bangga padamu Brother.
Tanpa kusangka, Mario membalas pesanku.
Dalam persabatan, yang terpenting adalah kepercayaan. Aku sudah
berjanji padamu, dan aku pasti akan menepatinya. Aku tidak ingin kamu
kecewa karena aku tidak menepati janjiku.
Aku menjadi mengerti. Sahabat terbaik adalah sahabat yang akan selalu
ada untuk kita, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun. Seperti halnya
Mario. Aku tau, ia pasti sibuk melayani sesi wawancara dan berfoto ria
disana, tapi ia tetap membalas pesanku.
Aku sudah menganggapnya
seperti adikku sendiri. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti
dia. Umurnya yang lebih muda dariku tidak membuatnya kekanak-kanakkan.
Justru terkadang ia lebih dewasa ketimbang aku. Aku harap, kita bisa
menjadi sahabat selamanya ya...
End
Note : Ini memang kisah nyata, tapi ada beberapa part yang aku improv sendiri
terimakasih sudah membaca^^






Tidak ada komentar:
Posting Komentar