Translate

Sabtu, 15 Juli 2017

Götzeus (cerpen)


Tittle : Götzeus (friendship story about Mario Gotze and Marco Reus)
Story by : Ajeng Fadillah
Length : Oneshoot
Genre : Friendship
Cast : Marco Reus, Mario Götze, and other...




Happy Reading...


    Menjadi pemain sepak bola adalah impianku sejak kecil. Aku bersyukur karena kedua orang tuaku sangat mendukung impianku itu. Mereka menyekolahkanku disebuah akademi khusus saat aku baru berusia lima tahun. Namaku Marco Reus. Aku lahir di salah satu distrik di Jerman, yaitu Dortmund. Disini terkenal akan kedisiplinan dan kerja kerasnya yang tinggi. Terkadang aku harus mendapat hukuman bila telat walau hanya lima menit.

    Saat ini, aku sudah berusia duapuluh lima tahun. Tidak terasa umurku sudah menginjak seperempat abad lebih. Aku telah pindah dari klub lamaku-Borussia Moncengladbach, tahun 2012-ke Borussia Dortmund. Di klub ini, aku bermain sebagai midfielder. Dan di klub ini pula aku memiliki teman yang posisinya sama denganku dan membuatku nyaman padanya.

    Adalah Mario Götze. Dia tiga tahun lebih muda dariku. Dia sangat baik walau terkadang usil. Awalnya aku dan dia biasa-biasa saja. Sampai akhirnya kami selalu berdampingan baik dilapangan maupun diluar lapangan. Seperti halnya saat di locker room, sebisa mungkin kami duduk berdampingan meski jersey kita digantung berjauhan. Atau mungkin saat berfoto bersama dalam starting-eleven, aku pasti ada disampingnya.

    Sebelumnya, aku telah mengenalnya sejak kami sama-sama bermain untuk tim nasional senior. Tetapi baru di Borussia Dortmund ini kami menjadi dekat. Sampai-sampai para fans membuat julukan bagi kami yaitu “Götzeus”, yang merupakan gabungan antara Götze dan Reus.

    Tahun 2013, adalah satu tahunku di Borussia Dortmund. Aku senang bercampur sedih. Mario harus pindah ke Bayern München. Aku ingin melarangnya, tapi aku tak punya kewenangan. Bagaimanapun juga, itu hak Mario untuk memilih. Lagipula dia juga yang menjalankannya.

    Hari dimana ia berpamitan, dia berkata sembari memelukku “Kita akan selalu bersama, kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun.”

    Meski telah berjauhan, kami tetap menjaga pertemanan ini. Biasanya kami saling mengunjungi secara bergantian, terkadang aku yang mengunjunginya di München, atau sebaliknya Mario yang mengunjungiku di Dortmund. Kami juga sering menggunakan media sosial untuk saling menyapa. Atau selagi tak ada jadwal berlatih, kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu-walaupun waktu libur kami sangat minim.



    Di tahun 2014 ini, aku menjadi salah satu dari dua puluh tiga orang yang dipanggil untuk piala dunia di Brazil. Aku sangat senang karena ini tahun pertamaku untuk ajang empat tahunan itu. Satu minggu sebelum acaranya berlangsung, tim kami melakukan pertandingan uji coba melawan Armenia. Aku menjadi salah satu dari starting-elevennya. Akan tetapi Mario tidak. Dia masih harus beristirahat hingga tiga hari mendatang.

    Tanpa disangka tim kami menang besar. Tetapi itu tidak membuatku senang. Aku justru sedih dan kecewa. Aku sempat oleng saat akan mengejar bola. Kakiku tertekuk dan hamstringku langsung cedera. Aku berteriak sekerasnya-rasanya sakit sekali. Aku bahkan tak tau jika Andre yang membantuku untuk berjalan hingga pinggir lapangan. Selain Mario, aku juga dekat dengannya.



    Tim medis membalutkan perban pada kaki kiriku. Aku divonis absen selama tiga bulan. Aku hanya bisa pasrah. Aku harus mengubur mimpiku untuk acara empat tahunan itu. Tak mungkin rasanya jika memaksakan. Jangankan berlari, bangkit tanpa dibantupun rasanya sakit sekali.

    Aku masih berbaring di bangsal ketika seorang staff memberikanku ponsel. Katanya ada pesan masuk dari Mario.

   Bagaimana keadaanmu? Aku sangat khawatir. Andai aku ada disana. Aku pasti menjadi yang pertama menolongmu.

    Aku sedikit tersenyum membacanya. Lalu aku membalas.

   Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir..

    Aku harap kebohonganku itu tidak membuat Mario marah. Aku hanya tak ingin membuatnya khawatir. Cukup aku saja yang merasakan.

   Pertandingan usai. Aku dibawa menuju locker room sembari dipapah. Suasana yang tadinya ramai berubah menjadi hening begitu aku memasuki locker room. Aku duduk pada bilikku yang tergantung jersey #21 Reus.

    Satu persatu mendekat. Mereka langsung menanyakan keadaanku. Katanya mereka sedih dan khawatir. Aku begitu tersentuh mendengarnya. Terkadang aku merasa tidak dipedulikan oleh mereka. Tetapi itu semua salah.

   “Mario langsung mengirimkan pesan pada kami semua hanya untuk menanyakan keadaanmu.” Aku kaget bukan main saat Philipp-kapten tim- mengatakan itu. Lalu Thomas menunjukkan pesan yang diterimanya dari Mario, disusul oleh Jerome, kemudian yang lain-ternyata benar, mereka mendapat pesan yang sama dari Mario.
   “Aku tak apa. Jika kalian ingin membalas, katakan aku baik-baik saja.”
   “Apa maksudmu dengan kata baik-baik saja?” Andre menatapku tajam. “kakimu di perban. Kalau tidak cedera, lalu apa lagi?”

   Teman-temanku yang lain senada dengan Andre. Mereka tau aku berbohong. Mereka kesal dan marah. Yang mereka inginkan aku terbuka dan jujur tentang kondisiku.

   “Justru kami akan sedih jika kamu tidak mau terbuka pada kami.” ujar Sami.
  “Bagaimanapun juga kita ini tim, Marco. Kamu tidak pernah sendiri, kami akan selalu ada untukmu. Apapun kondisimu.” Bastian menambahkan.

   Aku tak sanggup berkata mendengar kepedulian teman-temanku. Tiba-tiba pintu locker room terbuka, seorang pria yang mengenakan jaket cokelat muncul. Semuanya tertuju pada orang itu. Termasuk aku. Dengan cepat orang itu berada disampingku dan langsung memeluk. Rekan-rekan setimku yang tadi mengerubungiku memilih meninggalkan kami berdua.

    “Aku tidak percaya saat kamu mengatakan baik-baik saja. Aku melihat dengan jelas bagaimana kamu berteriak kesakitan, kemudian kamu harus dibantu saat berjalan.” Mario mengatakan itu dengan lirih sambil memelukku dari samping.
    “Maafkan aku.” aku hanya bisa mengatakan itu. Aku tak tahu bagaimana kecewanya Mario mendengar jawabanku.
     Mario melepas pelukannya. “Tidak perlu minta maaf. Cukup katakan apa yang sebenarnya terjadi.”
   Aku menghela napas sebelum menjawab. Rasanya berat. Entah kenapa aku merasa seperti itu. Seakan-akan aku tak ingin membagi kesedihanku padanya. “Aku...”
    “Cepat katakan! Kamu menganggap aku apa? Kenapa kamu tidak mau jujur padaku?”
    “Aku cedera.” kataku lantang hingga membuat seisi locker room kembali hening. Aku tak tau seberapa keras suaraku saat mengatakan itu. “aku cedera dan aku harus absen selama tiga bulan.” aku memperjelas.
     Mario kembali memelukku. “Aku akan meneruskan mimpimu di piala dunia nanti. Aku janji.”

***

   Aku termenung menatap layar tv saat Jerman akan bertanding melawan Portugal. Aku tak begitu semangat. Aku masih belum bisa menerima cedera ini. Tapi aku tak lupa memberikan pesan singkat untuk teman-temanku di Brazil sana.

   Terimakasih. Aku senang hari ini dijadikan starting-eleven oleh Coach Jogi. Aku harap, kamu juga senang ya. Ini semua untukmu..
*Dari seluruh pemain dan staff*

   Aku tersenyum miris membaca balasan dari Mario. Tentu saja aku iri melihat teman-temanku tersenyum ceria saat di lorong menuju lapangan, kemudian melantunkan lagu kebangsaan dengan khidmat. Sekali lagi, aku sangat iri! Andai saja aku tidak cedera, pasti aku ada disana dan merasakan semua itu.

***

   Hari-hari berlalu. Negaraku selalu menang, dan hanya sekali seri. Hingga akhirnya Jerman menembus final bersama Argentina. Oh, tinggal selangkah lagi untuk mengangkat trofi itu. Dan sekali lagi, aku tak ada. Aku hanya bisa menyaksikannya di tv. Perasaanku semakin kalut saja. Tak tau apakah harus senang atau sedih.

    Kamu ingat pada janjiku saat kamu cedera dulu? Aku berkata bahwa piala dunia ini aku jalani untukmu, untuk mewujudkan mimpimu. Dan sekarang aku kembali berjanji. Aku akan membawa trofi itu ke negara kita. Ingat itu, aku janji.

   Aku baru membacanya saat sore hari dimana closing ceremony piala dunia sedang berlangsung-padahal pesan itu dikirimkan Mario sejak pagi hari. Aku hanya membalas “Good Luck.”, karena aku tak ada semangat untuk membahas itu.

   Aku tak beranjak kemana-mana saat pertandingan itu berlangsung. Beberapa camilan menemaniku. Saat lagu kebangsaan berkumandang, aku tak melihat ada Mario disana. Tapi aku yakin Mario bermain, biasanya ia menggantikan Miro.

   Hingga babak pertama usai, Mario belum juga muncul. Barulah didua menit terakhir babak kedua, ia masuk menggantikan Miro. Pertandingan masih kacamata, mau tak mau harus menambah 2x15 menit. Di 15 menit pertama, masih tak ada gol yang tercipta. Aku semakin cemas, aku tidak ingin pertandingan ini berakhir dengan penalti.

   Tiba-tiba dimenit 113, Andre menggiring bola dari samping. Sebelum pemain lawan merebut bolanya, ia segera menendang kearah Mario. Mario yang hanya sendirian disana menahan operan Andre dengan dada. Beberapa pemain lawan mencoba mendekatinya dan berusaha merebut bola dari kaki Mario. Posisi Mario saat itu sangat mengancam lawan. Dengan satu sepakan keras, Mario mampu membobol gawang lawan.


   Sampai akhir pertandingan, negaraku tetap unggul. Lalu mereka bersorak, saling berpelukkan, bahkan ada yang menangis bahagia. Aku dirumah hanya bisa tersenyum sambil bertepuk tangan. Aku tak menyangka jika negaraku akan menang, yang lebih membuatku tak menyangka adalah janji Mario. Mario benar-benar menepati janjinya untuk membawa trofi piala dunia ke Jerman. Dan itu semua berkatnya, berkat keberhasilannya mengeksekusi operan dari Andre.

   Satu persatu pemain menaiki podium untuk menerima mendali dan trofi. Ada satu objek yang membuatku penasaran. Sorotan kamera yang dari jauh membuatku sulit mengetahui jersey siapa yang dibawa Mario saat itu. Saat kamera mulai mendekati Mario, ternyata itu adalah jerseyku-jersey bernomor punggung #21 dan bernama Reus. Mario bahkan terus membawa jerseyku sampai selebrasi ditengah lapang.



   Begitu siaran piala dunia usai, aku membuka akun twitter dan facebook sekaligus. Aku ingin mengucapkan selamat pada rekan-rekanku. Dari sosial  media itu pula aku mendapat banyak artikel yang memuat aksi Mario. Kebanyakan tentang kehebatannya menjebol gawang lawan. Tetapi, saat ia membawa jerseyku juga banyak yang memposting.

   Selamat, aku bangga padamu Brother.

   Tanpa kusangka, Mario membalas pesanku.

   Dalam persabatan, yang terpenting adalah kepercayaan. Aku sudah berjanji padamu, dan aku pasti akan menepatinya. Aku tidak ingin kamu kecewa karena aku tidak menepati janjiku.

   Aku menjadi mengerti. Sahabat terbaik adalah sahabat yang akan selalu ada untuk kita, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun. Seperti halnya Mario. Aku tau, ia pasti sibuk melayani sesi wawancara dan berfoto ria disana, tapi ia tetap membalas pesanku.
Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dia. Umurnya yang lebih muda dariku tidak membuatnya kekanak-kanakkan. Justru terkadang ia lebih dewasa ketimbang aku. Aku harap, kita bisa menjadi sahabat selamanya ya...

End


Note : Ini memang kisah nyata, tapi ada beberapa part yang aku improv sendiri
terimakasih sudah membaca^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar